Persebaya

Mempertanyakan Paham Rasisme Rezim Edy Rahmayadi

SURABAYA-GN27.COM: Dalam beberapa pekan terakhir ini, dalam lanjutan Liga 1 PSSI, terdapat sebuah fenomena baru  menggelikan dan membodohkan yang terus diproduksi oleh rezim Edy Rahmayadi. Peristiwa ini bermula ketika adanya keputusan penghentian pertandingan yang dilakukan oleh wasit ketika mendengarkan suara dukungan, atau perilaku rasis yang dilakukan oleh suporter di dalam stadion. Lantas yang salah apa dari kebijakan tersebut?

Letak permasalahannya adalah gagalnya berpikir menggunakan nalar secara benar dalam memahami ataupun memaknai arti dari rasisme itu sendiri. Sehingga, federasi dan operator liga, justru menerbitkan kebijakan yang ngawur cenderung sesat dalam implementasinya di lapangan.

Rasisme adalah pemikiran atau pandangan bahwa ras terterntu lebih cerdas dan lebih kuat dibandingkan dengan ras yang lainya. Pandangan ini adalah diproduksi oleh orang-orang berkulit putih sepanjang berlangsungnya masa kolonialisme barat, yang menghasilkan berbagai macam bentuk kekerasan politik, perbudakan, segregasi ras, diskriminasi, hingga genosida.

Sementara itu, PSSI berupaya memberantas perilaku rasisme dengan megeluarkan Surat Edaran Nomor 07 tentang Prosedur Penghentian Permainan karena SARA, POLITIK dan HINAAN. Surat edaran ini, diterbitkan merujuk pada Rapat Komite Eksekutif PSSI pada 8 Oktober 2018, yang memerintahkan penghentian sementara permainan pertandingan sepakbola saat adanya nyanyian dan/atau koreografi oleh suporter yang mengandung unsur SARA (Suku, Ras, dan Agama), pesan politik dan penghinaan.

Setelah surat edaran tersebut dilayangkan kepada seluruh klub peserta Liga PSSI, yang jamak terjadi adalah penghentian permainan pertandingan sepakbola ketika terdapat sebuah nyanyian “Tugasmu mengayomi, tugasmu mengayomi, Pak Polisi, Pak Polisi, Jangan Ikut Kompetisi” nyanyian lagu suporter ini sering kita jumpai ketika sebuah klub berhadapan dengan Bhayangkara Fc.

Lantas pertanyaan yang muncul adalah, dimana letak SARA, pesan politik, dan penghinaan yang diyakini oleh PSSI, yang terdapat di dalam kandungan lagu/chants di atas? Ataukah pihak Kepolisian Republik Indonesia merasa dihinakan dengan chants tersebut?

Perihal di atas, juga terjadi dalam pertandingan semalam antara Persebaya Surabaya kontra Bhayangkara Fc di Gelora Bung Tomo, Senin (26/11/2018). Berkat bonek menyanyikan chants tersebut, pertandingan sempat dihentikan oleh Wasit Faulur Rosy. Wasit yang berasalah dari Nangroe Aceh Darussalam ini menganggap, bonek telah melanggar aturan yang seusai surat edaran, yakni menyanyikan lagu rasis.

Keputusan ini tentu diprotes keras oleh segenap jajaran Official Persebaya Surabaya. Tak terkecuali General Coordinator Persebaya Surabaya, Ram Surahman. Ia menganggap kebijakan ini adalah blunder yang dilakukan oleh operator liga, PT.LIB  juga masih kebingungan dalam mendefinisikan aksi rasisme di dalam pertandingan sepakbola.

“Makanya tadi kita protes keputusan wasit. Mereka juga ga bisa ngomong, alasannya hanya mendasar pada di pertandingan lainnya ketika Madura United lawan Bhayangkara Fc juga dibelakukan hal yang sama. Kita kejar terus, mana aturan tertulisnya,” kata pria yang akrab disapa Cak Ram ini kepada Greennord27.com.

Ia menambahkan, kedepan jika terdapat agenda manager meeting dengan federasi dan operator liga, akan kita layangkan sikap resmi dari Persebaya Surabaya.

“Intinya, kami akan meminta batasan-batasan atau kejelasan rasisme yang dimaksudkan. Agar tak timbul peraturan-peraturan karet, yang membuka potensi permainan para elit sepakbola tanah air,” ungkapnya.

Setelah menyalahkan wartawan karena prestasi Tim Nasional Indonesia yang kian memburuk, saat ini PSSI menghukum suporter yang menyuarakan kritikan dengan dalih itu suara rasisme di dalam pertandingan. (AP)

Related posts

Jika Persebaya Adalah Sebuah Kereta, Jangan Pernah Sesekali Beli Sparepart Bekas!

Redaksi Green Nord

MENYERAH ITU PECUNDANG

Green Nord

Menang dan berjayalah, Persebaya!

Green Nord