Bonek Komunitas

Cerita di balik Sisi Utara Gelora 10 November

Tahun 2011 dikala kompetisi liga Indonesia sedang amburadul dengan ketidakjelasannya, ditambah permainan Persebaya seperti ompong kehilangan taringnya layaknya buaya yang ogah menerkam musuhnya, ditambah lagi fenomena di dalam stadion yang mulai sering menyanyikan lagu rasis ke rival yang sejatinya saat itu tim Persebaya tidak melawan rival tersebut munculah berbagai kegelisahan dari beberapa Bonek.

Mereka risih dengan chant rasis tersebut yang akan berdampak pada sisi psikologis bonek yang masih usia dini. Perlu digarisbawahi disini mereka masih menganggap rival tetap rival tetapi mereka resah dengan lagu rasis yang ditunjukan saat bukan melawan rival tersebut. Banyak keluh kesah waktu itu di sosial media facebook. Yang akhirnya muncul sebuah grup facebook tertutup yang membahasan kesamaan resah mereka. Berasal dari keluh kesah yang sama itulah akhirnya mereka membuat acara temu bareng atau yang sering disebut ”Kopdar” (Kopi Darat).

Kopdar awal dilakukan di bawah tiang bendera salah satu Universitas Negeri di Surabaya. Yang awalnya mereka hanya kenal lewat sosial media tersebut akhirnya bisa bertemu saling mengungkapkan saran dari masing – masing individu yang datang. Dan akhirnya hasil kopdar memutuskan untuk tetap dukung Persebaya dengan memperbanyak kreativitas dan menghilangkan lagu rasis secara perlahan.

Dengan memperbanyak kreatifitas tersebut diharapkan seluruh sisi Gelora 10 November Tambaksari akan gemuruh dengan dukungan puluhan ribu bonek yang hadir yang akhirnya memicu semangat pemain di lapangan yang bermain.

Tepat 24 Agustus 2011 saat Persebaya melakukan ujicoba dengan Timnas U-23 di Gelora 10 November Tambaksari menjadi awal mula munculah sebuah dukungan dari sisi sebelah utara (UC) yang awalnya hanya segelintir orang yang mau ikut berdiri dan bernyanyi 2×45 menit. Akan tetapi dengan penuh tekat dan semangat ditambah atraksi flare di akhir pertandingan yang membuat banyak orang penasaran dengan sekelompok Bonek yang berada di sisi utara ini. Tak ada nyanyian rasis selama pertandingan yang ada hanya nyanyian dukungan kepada tim kebanggaan.

Related posts

Suporter Adalah Pendukung Klub, Bukan Artis Tribun

Redaksi Green Nord 2

Jangan Kasih Ampun Tim Kloningan

administrator

Kelola Sepakbola Indonesia, Dimana Kata Profesional Hanya Mimpi

Redaksi Green Nord

2 comments

Ryanfah 20 September 2017 03:01 WIB at 20 September 2017 03:01 WIB

Kerren

Galih 28 September 2017 18:52 WIB at 28 September 2017 18:52 WIB

Boleh saran min,
warna text agar dipergelap/gold ,
Karena kalau hitam dasar kombin tulisan putih mata agak susah bacanya,agak terganggu.
Terima kasih.

Comments are closed.