Bonek Komunitas

BONEK YANG SELALU KREATIF DAN ATRAKTIF

Oleh: R.N. Bayu Aji*
(Dosen Pendidikan Sejarah Unesa)

Sepak bola adalah olahraga yang memiliki daya tarik permainan global. Tidak ada bentuk budaya popular lain seperti sepak bola yang dapat menimbulkan gairah kebersamaan dalam perjalanan sejarah olahraga di dunia. Penyebaran sepak bola yang melintas batas hingga ke belahan penjuru dunia telah memungkinkan suatu budaya yang berbeda dalam sebuah negara untuk dikonstruksikan menjadi bentuk identitas komunitas suporter melalui praktik dan interpretasi atas permainan sepak bola.

Maraknya komunitas suporter, baik di luar negeri maupun di Indonesia tidak terlepas dari proses praktik dan interpretasi tersebut.dalam sebuah identitas. Setiap anggota dari komunitas suporter itu pada akhirnya membayangkan secara kuat dibenaknya tentang klub kesayangannya.
Meminjam istilah Ben Anderson tentang imagined community, yang menjelaskan bahwa tidak perlu untuk mengenal satu persatu nama dan tahu satu persatu latar belakang antar tiap anggota dalam sebuah komunitas tersebut. Asalkan mebayangkan secara kuat dan sama tentang tim idola yang didukung, maka hubungan yang erat dan kuat sebagai komunitas bisa terbentuk.

Setiap akhir pekan pun mereka dapat mengkonstruksikan identitasnya secara aktif atas tafsir permainan dengan mendukung klub idolanya, baik langsung ke stadion, melalui layar kaca ataupun nonton bareng, dan bahkan rela menempuh jarak anatar pulau maupun ribuan kilometer untuk berkumpul bersatu mendukung tim kesayangannya.

Di Indonesia terdapat banyak sekali komunitas suporter sepak bola. Salah satu komunitas suporter itu adalah adalah bonek, yakni kelompok suporter fanatik pendukung klub legendaris Persebaya Surabaya.

Bonek merupakan istilah yang pada mulanya positif, suporter yang terkoordinir rapi dan tidak identik dengan kekerasan, justru berkembang menjadi negatif dan identik dengan kekerasan. Hal inilah yang dijelaskan oleh Fajar Junaedi dalam bukunya yang berjudul “Bonek, Komunitas Suporter Pertama dan Terbesar di Indonesia”. Menurut Fajar, perubahan makna dari positif ke negatif terhadap bonek tidak bisa terlepas dari peran media massa yang memiliki kekuatan untuk menciptakan opini publik dan bahkan menjadi kekerasan simbolik. Bonek pun kerap dijadikan sebagai obyek sasaran atas kekersan simbolik itu.

Perilaku bonek selalu dipandang sebagai sesuatu yang memiliki nilai berita tinggi. Media massa berperan aktif dalam menciptakan citra bonek yang kemudian dicap negatif. Dalam perkembangannya, kata bonek digeneralisasi oleh beberapa media massa untuk menamai kekerasan yang dilakukan oleh suporter sepak bola.
Apabila ditelusuri secara historis, kita semua akan menemukan bahwa bonek justru merupakan suporter yang pertama kali mengalami modernisasi pada pertengahan dekade 1980-an. Pada awalnya orang-orang yang mendukung Persebaya hanya disebut suporter Persebaya. Mereka serentak dari Surabaya dan kota lainnya memakai atribut hijau-hijau dan berani menempuh jarak ribuan kilometer yang akhirnya menghijaukan stadion Senayan ketika Persebaya lolos dalam final kompetisi perserikatan di tahun 1987.

Suporter persebaya mengawali proses modernisasi ini dikala suporter kesebelasan lain tidak melakukannya. Keberanian dan kenekatan suporter Persebaya dalam mendukung klub kesayangannya yang bertanding jauh di daerah lain inilah yang kemudian melahirkan istilah bonek (bondho nekat).
Sejarah perkembangan suporter sepak bola di Indonesia menunjukkan fakta bahwa kata bonek berartikulasi dalam berbagai makna. Pertama, kata bonek adalah suporter Persebaya. Untuk menjadi seorang bonek cukup dengan memberikan dukungan terhadap Persebaya tanpa harus memiliki kartu tanda anggota bonek karena ia bukanlah nama sebuah organisasi, namun lebih bermakna sebagai nama yang dibesarkan dalam konteks budaya. Kata bonek menjadi cepat diterima dan berkembang menjadi nama bagi suporter Persebaya dan mereka merasa cocok dengan sebutan tersebut.
Kedua, kata bonek tumbuh dari interaksi kultural yang bermakna semangat. Bukan hanya sebuah nama yang mewakili komunitas suporter sepak bola yang mendukung Persebaya. Bonek juga diartikulasikan sebagai tindakan yang memperlihatkan sebuah semangat untuk mendukung sebuah klub sepak bola.

Oleh sebab itu, bonek tidak hanya dilihat sebagai kata benda, melainkan juga sebagai kata kerja. Bonek selalu menjadi kata kerja tanpa akhir sekaligus sebuah proses tanpa akhir untuk menjadi supporter yang atraktif dan dari dulu selalu kreatif dalam mendukung klub kebanggaannya, klub yang dibayangkan secara kuat dibenak setiap suporternya.

Ya, klub itu bernama Persebaya

 

*Tulisan ini merupakan catatan dan tafsir atas buku “Bonek, Komunitas Suporter Pertama dan Terbesar di Indonesia” karya Fajar Junaedi yang diterbitkan oleh penerbit Buku Litera tahun 2012. Tulisan ini pernah dipublikasikan di Jawa Pos dan diolah lagi dengan beberapa improvisasi dari penulis catatan atas buku ini.

Related posts

Bonek Disaster Response Team, Paramedic Team & SAR Suporter Pertama di Indonesia.

operator website

PYROSHOW DI MATA BONEK

Redaksi Green Nord 3

MODAL 8 BESAR

Redaksi Green Nord 2

1 comment

Bonek 2 October 2017 09:15 WIB at 2 October 2017 09:15 WIB

Mbois iki cak, jadikan dulur2 bonek lebih ter-edukasi dengan artikel2 yg berbobot terkait dengan sejarah besar Persebaya dan bonek. Tunjukan lek bonek saiki ga sekedar bondo nekat tapi bondo, nekat, dan kreatif!
Salam Satu Nyali… Wani!

Comments are closed.

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: