Bonek

Dari Bonek, Maklumat Untuk Polisi

LAMONGAN-GN27.COM : Pada penyelenggaraan laga away saat menghadapi Persela Lamongan, Jumat (30/3/2018) kemarin, Persebaya harus berbesar hati menerima keputusan larangan Bonek untuk mendukung tim kebanggaannya secara langsung di Stadion Surajaya Lamongan. Keputusan tersebut diambil,  setelah dilakukannya rapat antara pihak keamanan (polisi), management kedua tim (persela & persebaya), beserta kedua element suporter (Bonek & LA mania).

Peristiwa di atas, jauh-jauh hari sebenarnya sudah berhembus di kalangan suporter. Melihat beberapa up-date dari media massa, pun hal ini ternyata berawal dari hasil kesepakatan antara panpel pertandingan dengan pihak Polres Lamongan.

Mengutip dari media Official Persebaya, alasan panpel melarang kedatangan Bonek untuk datang adalah dikarenakan rekonsiliasi hubungan kedua element suporter yang sudah dilakukan belum mencapai 100 persen. Sehingga menurut pihak panpel masih besar kemungkinan terjadi gesekan-gesekan diantara keduanya.

Sementara itu, alasan yang dilontarkan daei pihak polisi sendiri adalah dari segi keamanan, terlebih menjelang pilkada.  Namun entah, keamanan seperti apa yang dimaksud dari Polres Lamongan sehingga melarang Bonek untuk berangkat.

Dari peristiwa di atas, menjadi menarik untuk kita simak. Sebelum jauh membahas hal tersebut, tentu pondasi awal kita adalah Statuta FIFA. Bahwa tertulis sangat jelas di dalamnya, FIFA mengatur dan memberikan instruksi setiap pertandingan baik itu kompetisi reguler ataupun yang bertajuk entertainment/persahabatan,  pihak tim tuan rumah harus menyediakan kuota tiket 5 persen dari total kapasitas stadion bagi suporter tim tamu.

Peraturan inilah yang juga kemudian diadopsi oleh PSSI yang dalam pengejawantahannya juga tertulis dalam statuta PSSI.

Poin pertama yang pataut kita simak adalah, domain panita penyelenggara pertandingan adalah pada bentuk teknis persiapan hingga penyelenggaraan pertandingan. Sehingga ketika panpel berbicara pada ranah rekonsiliasi suporter, dan menjadikan hal tersebut sebagai dasar keputusan melarang suporter tim tamu hadir dalam stadion, tentu sudah menjadi ranah yang berbeda.

Contoh kasus, Ketika terjadi pertandingan antara Real Madrid dan Barcelona, rivalitas kedua tim tidak hanya berawal dari dunia sepak bola saja, melainkan juga mengakar pada bumbu-bumbu kepentingan politik. Namun tidak pernah menjadi alasan bagi panpel untuk tidak menyediakan kuota tiket bagi suporter tim tamu. Pun demikian dengan pertandingan timnas Polandia vs Russia, meski sudah sering terjadi bentrok diantara kedua suporter ketika saling bersua, juga tidak menjadi alasan bagi panpel pertandingan tidak menyediakan kuota tiket bagi suporter tim tamu.

Artinya, pelajaran yang dapat dipetik adalah, pihak panpel pertandingan hanya mengurus tataran teknis pertandingan, bukan yang lain. Karena domain dari segi keamanan adalah jobdes dari pihak kepolisian.

Poin kedua adalah, pihak kepolisian juga melakukan blunder saat memberikan keputusan larangan kepada Bonek untuk melakukan away days ke Lamongan. Jika larangan tersebut berlandaskan dari pertimbangan keamanan, lantas yang menjadi pertanyaan adalah apa kinerja kepolisian? Sebagai aparatur negara, polisi harusnya menjadi solusioner bagi masyarakat, memberikan solusi bukan hanya sekadar melarang.

Tengoklah ketika peristiwa away days Bonek di Jember beberapa waktu silam. Pada saat itu justru, situasi Bonek dengan oknum perguruan pencak silat sedang memanas, namun tak serta merta menjadi alasan bagi Polres Jember untuk melarang kehadiran Bonek ke stadion demi mendukung Persebaya.

Bahkan, Polres Jember melakukan kordinasi pengamanan Bonek hingga lintas wilayah ke kepolisian yang daerahnya dilintasi Bonek. Kapolres sendiri pun yang langsung menghimbau kepada Bonek untuk menaiki kendaraan yang sudah disiapkan oleh pihak Polres Jember,  dan dibantu Polda Jatim,  untuk pulang beriringan secara bersamaan secara aman dan tertib.

Hal seperti inilah yang harus dicontoh oleh kepolisian resort kota besar atau kabupaten manapun ketika mengemban tugas. Bukan serta merta melarang, namun memberikan solusi atas sebuah peristiwa.

Lucunya, apa yang menjadi ketakutan pihak panpel Persela dan Polres Lamongan tidak terjadi. Kehadiran Bonek ternyata bisa diterima dengan baik oleh warga Lamongan dan pihak Lamongan fans. Bahkan Bonek dapat menggunakan atribut kebanggaannya tanpa ada larangan, dan berada satu tribun tanpa pembatas dengan para suporter Persela. Peristiwa tersebut tercermin dari para suporter Persela Lamongan yang bernyanyi ‘Selamat datang Bonek’ tanda sambutan baik sebagai tuan rumah.

Pesan kami kepada para seluruh jajaran Kepolisian Republik Indonesia, semakin kami dilarang untuk mendukung Persebaya berlaga dimana pun tanpa ada alasan yang jelas, semangat kami justru semakin berlipat ganda, dan justru membawa kerugian tersendiri jika keberangkatan kami menjadi lebar dan tak terkordinir. Tentu dari anda semua tentu sudah tahu bahwa kami mewarisi darah pejuang, maka dari itu tak perlu melarang kami untuk mendukung kebanggan kami, cukup kasih tahu rule of the game yang fair yang sesuai peraturan berlaku.

Tentu peristiwa tersebut menjadi tamparan keras atas tidak becusnya kinerja antara panpel pertandingan dan pihak kepolisian dalam menjalankan tugas.

Ingat, Bonek adalah sekumpulan masyarakat yang memiliki kecintaan terhadap klub Persebaya Surabaya. Sehingga dimana pun tim Bajul Ijo bertanding, kami akan terus hadir memberikan dukungan. Oleh karena itu, kami bukanlah sekelompok teroris yang ingin membunuh atau merusak fasilitas umum, sehingga tak perlu melarang kehadiran kami diamanapun kota anda.

Related posts

QnA Open Loyalis GN Media.

operator website

Jangan Kasih Ampun Tim Kloningan

administrator

BLACK FOR JHONERLY SIMANJUNTAK

Redaksi Green Nord

1 comment

Jonathan 31 March 2018 19:52 WIB at 31 March 2018 19:52 WIB

Masok!

Lebi baik nekat, daripada tidak mendukung sama sekali.
Tuhan bersama orang orang nekat!
Salam satu nyali, wani!

Comments are closed.