Bonek

Estafetan Bukan Sarana Maling. Usut Tuntas ‘Boling’

SURABAYA-GN27.COM : Sebelumnya, kami keluarga besar Green Nord Tribune turut berbela sungkawa atas meninggalnya saudara kita semua, Micko Pratama, Bonek yang beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Peristiwa jatuhnya korban dalam setiap perjalanan awaydays, sepertinya harus menjadi perhatian kita semua sebagai sesama suporter Persebaya. Sebab, hal seperti ini, sudah tidak lagi masuk akal, dan sudah saatnya dicari pangkal permasalahannya dan dihentikan. Kita semua telah bersepakat jika, tak ada yang lebih berharga ketimbang nyawa, kita tentu sudah muak jika melihat masih terdapat Bonek yang menjadi korban atas tindakan-tindakan konyol dari segelintir orang yang berbuat tindak kriminalitas.

Hal tersebut kembali terulang Sabtu dini hari (14/04/2018) kemarin, dimana terjadi bentrok antara Bonek dengan warga Solo. Bentrokan ini dipicu oleh tindakan bodoh, segerombolan massa yang bertepatan memakai atribut Persebaya dan Bonek yang mencuri di salah satu depot makan dan beberapa titik di Solo. Tindakan tersebutlah yang kemudian melucut amarah warga ke Bonek, sayanganya, yang menjadi korban amukan warga, justru Bonek yang tidak tahu pangkal permasalanan dan bahkan hingga meregang nyawa.

Perlu menjadi catatan bahwa, budaya estafet yang sering kita lakukan bukanlah sarana untuk maling, dan bukanlah sarana untuk menunjukan sikap sok ‘preman’.

Budaya estafet adalah cara kita untuk menekan pengeluaran akibat mahalnya biaya transportasi massa. Budaya estafet adalah menekankan kesadaran kita akan pentingnya rasa solidaritas sebagai sesama Bonek, tentu solidaritas yang dimaksud bukanlah untuk melakukan tindakan kriminalitas secara berkelompok, melainkan lebih kepada rasa guyub rukun untuk saling mengenal meski kita berasal dari berbagai wilayah yang berbeda.

Masih banyak diantara kita yang memiliki anggapan bahwa, Bonek dimaknai hanya sebatas nekat atau bernyali. Dan masih juga yang memiliki mindset jika menjadi Bonek itu harus menjadi preman, atau sok jagoan. Untuk urusan ini, kami tekankan sekali lagi, itu pemahaman yang salah besar.

Akronim ‘Bonek’ (Bondo nekat, red) yang memiliki arti sesungguhnya ketika pertama kali lahir adalah,  semangat juang yang tak pernah luntur untuk mendukung Persebaya dimanapun berada, meskipun ketika melakukan awaydays berada dalam satu stadion dengan suporter tuan rumah, nyali kita sebagai suporter tak pernah ciut demi mengawal tim kebanggaan saat berlaga.

Pun demikian dengan filosofi ‘ndas mangap’ (gestur orang berteriak, red) adalah sebuah simbolisasi rasa heroisme kita ketika menerjang ratusan atau bahkan ribuan kilometer, dan kemudian bernyanyi lantang selama 2 kali 45 menit hanya untuk membakar semangat para pemain Persebaya.

Jangan sekadar dipikir, arti Bonek adalah menjadi ajang unjuk gigi aksi premanisme di kota orang, jangan sekali-kali dipahami bahwa Bonek itu ajang maling berjamaah.

Ibarat pepatah karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Pepatah ini layak ditujukan kepada mereka, ‘Boling’ (Bondo maling, red) yang beratribut PERSEBAYA namun tak memiliki niatan untuk mendukung secara penuh. Secara praktik di lapangan, para ‘Boling’ ini sering berulah dan melakukan aksinya dalam setiap PERSEBAYA berlaga.

Berbekal atribut BONEK, setiap laga tandang atau kandang kehadiran mereka sangatlah meresahkan. Baik bagi warga yang kotanya dilalui BONEK, maupun bagi BONEK yang secara kebetulan berangkat bersamaan dengan mereka para ‘Boling’.

Secara penampilan, mereka tak ubahnya seperti BONEK pada umumnya yang ingin dan niat untuk mendukung total PERSEBAYA. Namun, sejak awal keberangkatan mereka telah memiliki niat yang sangatlah berbeda.

‘Bekerja’ atau melakukan modus operandi sambil memanfaatkan situasi nama besar Bonek. Entah dalam pengejawantahannya tindakan tersebut nantinya berupa menjarah, merampas, mencuri, atau apapun itu, mereka lakukan dengan alasan yang sama, untuk makan. Tentunya hal ini akan menjadi imbas negatif, jika amarah warga sudah pada batas wajarnya, dan yang menjadi korban amukan massa adalah bagi sesama bonek lainya saat perjalanan pulang setelah mendukung PERSEBAYA.

Dampak nyatanya adalah, penghadangan yang dilakukan oleh warga kepada Bonek secara masif, menjadi alasan para pelaku penyerangan menuntut balas atas ulah sebelumnya yang dilakukan para ‘Boling’ ini saat berangkat melintasi kotanya.

Jika sudah terjadi hal seperti itu, siapa yang harus bertanggung jawab? Terlebih jika sampai ada jatuhnya korban jiwa, tentu ini menjadi PR bagi kita semua. Mari rapatkan barisan kembali, jangan sampai citra yang sudah baik beberapa tahun ini, kembali rusak oleh tindakan konyol yang hanya dilakukan oleh orang yang bodoh. Dan kepada pihak yang berwajib Solo Raya, silahkan melakukan pengusutan tuntas atas tindakan kriminal yang merugikan warga, bahkan sekalipun jika mereka menggunakan atribut Persebaya dan bonek, kami tidak pernah menghalang-halangi proses penegakan hukum, jika memang kesalahan itu berasal dari pihak kami, justru kami akan mendorong dan membantu sebisa kami, agar masalah ini tuntas, sehingga tidak larut berkepanjangan. Selain daripada itu, Kami juga berharap hukum tidak hanya tajam terhadap bonek tapi tumpul kepada yang lainnya. Usut tuntas juga pelaku pembunuhan kawan kami. Tenang di Tribun Surgamu Cak Micko.

Related posts

Di Balik ‘Persebaya Emosi Jiwaku’

operator website

Bersama Menjaga Kejayaan

Redaksi Green Nord

BAKTI GREEN NORD 27 TRIBUNE UNTUK BONEK

Redaksi Green Nord