Bonek

Ia Bernama Micko Pratama

Tak Peduli Siapa pun Anda, Tangkaplah Isi Nasehatnya!

Aku jatuh cinta pada sepak bola seperti aku jatuh cinta kepada perempuan. Semuanya terjadi dengan tiba-tiba, tak dapat diterangkan dalam kata. Otak yang kritis berhenti seketika. Aku tak berpikir sama sekali tentang kesakitan dan kekacauan yang mungkin terjadi karenanya. (Nick Hornby, dikutip dari Bola di Balik Bulan karya Sindhunata)
Pagi itu (13/04) di Bantul, ribuan suporter yang menamai dirinya ‘Bonek’ sudah mulai berdatangan. Sambil bercengkerama mesra, mereka dengan bangga membawa spanduk bertuliskan dukungan untuk Persebaya. Tampak jelas semburat kegirangan di wajah Bonek yang hadir, entah dari komunitas Bonek mana pun. Saya pun tak kepalang girang. Meski kick off pertandingan PS. TIRA vs Persebaya masih di sore hari, namun ghirrah ingin berteriak memberi dukungan untuk Bajol Ijo sudah sebegitu tinggi. Kala itu saya sedang mengendarai motor, dan kebeteluan tertahan di traffic-light. Tiba-tiba seorang Ibu di samping saya berujar, “kok okeh Bonek-e.” Saya melirik sekilas sambil bergumam, “hemmm… nang ndi ae jenengan buk nembe ngertos antusiase Bonek lek Persebaya main.”
Ibu itu baru melihat di luar stadion saja sudah gumun, apalagi kalau ikut nribun, bisa-bisa malas diajak turun karena kagum, pikirku. Lha bagaimana tidak, ini Bantul bukan Surabaya, tetapi akibat kehadiran Bonek seakan Bantul tidak berjarak, seperti jadi rumah kedua. Lihat saja di dalam Stadion Sultan Agung, tempelan spanduk bernada heroik, semacam ‘Persebaya Emosi Jiwaku’, ‘Persebaya Sampek Kiamat’, ‘Persebaya Sakpedote Nyowo’, dll dengan gagah seperti berkata: Anggap saja Bantul rumah kita. Mari rayakan dan jaga bersama. Meski demikian, andai saja Ibu tadi sudah sejak lama mengetahui suasana stadion kala Persebaya berlaga, mungkin ia akan berkata, “lho le, spanduk dulu sekitar tahun 1999 yang bertuliskan: lima paradigma baru Bonek, seperti bertiket, tertib, dan banyak lagi itu di mana?” Ya kalau toh ibu itu benar-benar bertanya demikian, saya wajar saja, karena pada hari itu juga, bahkan sebelum dan -apalagi- sesudahnya, terdengar kabar kalau Bonek sungguh-sungguh menyita perhatian ‘hati kemanusiaan’. Sayangnya, karena saya hanya terlibat di tribun saja, saya pun tak paham fakta yang terjadi di sebelum dan sesudah laga. Hingga bertemulah saya dengan sedulur bernama Micko Pratama dari Sidoarjo. Dari perawakannya, dia lebih kecil dari saya, dan–dugaanku- pasti banyak temannya. Tentu praduga itu benar, sebab baru saja kenalan, dia langsung memulai obrolan. Konten pembicaraan kami sangat menarik, terutama dari sudut pandang otokritik. Kalian tidak percaya? Simak saja di bawah ini.
Saya : “Lur (berarti ‘dulur’, sebutan antar Bonek), ada kejadian apa kok Bonek dibicarakan di mana-mana?”
Micko : “Biasa hadz, Bonek itu besar, bahkan Fajar Junaedi sudah menuliskan fakta itu dalam bukunya. Tentu saja, segala gerak dan tingkah laku Bonek akan mendapat perhatian tersendiri dari masyarakat. Persoalannya adalah 1) bagaimana agar Bonek mampu melakukan ‘Seni Pengaturan Kesan’ atau model dramaturgi ala Goffman, di depan mata publik yang cenderung ‘sinis’ kepada Bonek, sekaligus 2) bagaimana cara mendidik publik untuk mampu melihat Bonek melalui kacamata Bonek, artinya –seperti Max Weber- publik bisa menempatkan diri dalam memahami Bonek.”
Saya : “Saya kurang paham dengan teori demikian, coba jabarkan secara kasuistik, mick. Misalkan budaya estafetan yang katanya baru tadi memakan korban satu.”
Micko : “Oh begitu, oke, tapi biar gak berbusa nih mulutku, kamu baca saja artikel ini. Lumayan bagus, karena fenomena dipahami dengan menarik ke belakang, seperti nasehat genealogis ala Foucault.”
Saya pun menerima artikel pemberian Micko. Tulisan di dua lembar kertas itu berasal dari ‘F’, penulis amatiran jebolan Jogja. Siapa dia? Ah… persetan dengan penasaran. Saya pun mulai membaca isinya:
“Dulu tahun 1987, saat melawan Persija, koran Jawa Pos menulis tentang tret tet tet (bunyi terompet yang kebisingannya mengalahkan bunyi vuvuzela di Piala Dunia), yang akhirnya menjadi identitas awaydays Bonek. Tentu medium tret tet tet beraneka macam, paling fenomenal ya estafet atau gandol dari truk ke truk sampai tempat tujuan. Estafet ini dilakukan untuk menghemat uang saku, agar uang yang dibawa bisa cukup untuk makan dan beli tiket. Ini luar biasa: fanatik yang ilmiah.
Sampai sekarang, di antara macam gaya tret tet tet, estafetan masih dilanggengkan oleh beberapa Bonek, meski kuantitasnya sudah menurun, sekaligus kualitas estafetannya. Kenapa? Ya karena memang sudah beda. Pertama, dulu tret tet tet itu koheren dengan ekonomi dan budaya. Bagi Bonek yang kurang dana, maka estafet adalah anugerah. Artinya, Bonek yang melakukan estafet bukan karena tidak memiliki uang, melainkan hanya kekurangan dana. Selain itu, estafet yang terlanjur diidentikkan dengan Bonek–sampai disebut juga mbonek–dianggap warisan, jadi tidak afdhal kalau Bonek kok belum estafet. Bandingkan dengan sekarang.
Estafet sudah mengalami distorsi. Oleh segelintir Bonek, estafet kini dijadikan momen untuk bekerja ‘ngawur’ dan mendapat untung (ya meski dulu-seperti cerita Suhu Oerip- tindakan demikian juga sudah ada, tapi intensitas dan penyikapannya berbeda). Menurut saya, itu tidak lain karena mindset salah dalam menghayati mentalitas Bondho dan Nekat. Celakanya, kesalahan itu wes dadi mainstream. Mereka ini berangkat mendukung Persebaya sudah tidak membawa cukup uang, tapi bereskspektasi bisa nribun dan makan. Itu mungkin masih bisa dimaklumi, karena kita pernah merasakan juga. Akan tetapi, fakta adanya penjarahan dan tindak kriminal oleh segelintir Bonek itu tidak bisa dikasih hati. Lagian juga budaya kan senantiasa bergerak –menurut teori adaptif ala Haviland, menyesuaikan pada konteks bergeraknya peradaban. Kalau budaya itu ada sisi baiknya ya harus dipertahankan, tetapi jika ada yang buruk pun segera dihilangkan, begitu kata kaidah fiqih-nya. Jika tidak diindahkan, ya as you saw so that you reap: kerusuhan karena dendam, citra Bonek yang dianggap kejam, panpel yang menderita kerugian, sampai jatuhnya korban, adalah sayatan akibat perilaku demikian.
Kedua, kreasi dari Bonek ‘yang dituakan’ (saya sebut sesepuh Bonek) terlihat minimalis. Dulu itu–obrolan saya dengan salah satu sesepuh Bonek Jogja, setiap jalur yang hendak dilalui Bonek, pasti sudah di-kulo nuwuni dulu. Minimal, kalau ternyata ada yang kriminal bisa langsung koordinasi antar warga dengan sesepuh Bonek. Sekarang sudah tidak lagi tuh terlihat pengawalan massif dari semua komponen sesepuh Bonek di setiap jalur perjalanan rombongan estafet. Ya kalau pun ada, tidak seberapa kompak. Entah dari sesepuh atau arek-arek yang kadang kada mbandel. Ini harus kita akui bersama. Otokritik bagi ‘yang tua’, dan alarm bagi ‘yang muda’ agar gak ngeyel lek dikandani sing tuo.
Lantas, apa yang harus dilakukan? Tidak ada yang jitu selain merubah konstruk pola pikir. Baiklah, jika dulu tahun 1999 ada lima paradigma baru Bonek, maka hal yang sama harus dilahirkan dengan redaksi: lima paradigma baru keluarga besar Persebaya yakni:
Kepada jajaran manajemen untuk tidak lepas dari tanggung jawab menjamin keselamatan semua pecinta Persebaya. Kalau kata seorang teman, Persebaya ini laksana bakso, manajemen si penjual, dan Bonek si pembeli. Logikanya, jika pembeli kesedak bakso, penjual tentu harus bertindak secara ksatria: tanggung jawab. Ya meskipun kesedaknya tidak melulu karena bakso-nya, bisa saja karena si penjual sendiri yang makannya kepalang gila.
Saya ingatkan sekali lagi untuk jangan terbuai dengan otoritas mengatur Persebaya, terutama nyuruh Bonek belajar berubah, tapi manajemen sendiri lupa belajar dari sejarah. Mbok yo teladanilah Simbah Dahlan Iskan yang dahulu sampai mengkampanyekan tret tet tet tertib, misal nyarter, hanya agar suporternya Persebaya tidak keleleran dan berpotensi berbuat di luar kendali.
Kepada sesepuh Bonek untuk mendampingi arek-arek kala away days, khususnya estafet. Saya meyakini bahwa estafetan ada mudharat-nya. Bisa dilihat dari kesaksian salah satu Bonek lawas bernama Peyek di Emosijiwaku.com, bahwa pada mulanya nggandol truk itu bukan tradisi Bonek. Saya sepakat. Akan tetapi, solusi yang diberikan terlampau radikal, sebab menghapuskan kemudharatan yang justru malah menimbulkan kemudharatan baru adalah suatu ketidakbijaksanaan. Itu kata kaidah fiqih.
Kita ini harus paham, bahwa oleh beberapa Bonek, estafet dianggap sudah menjadi “adat istiadat” (customs) atau “cara kehidupan” (way of life) –meminjam bahasa Marvin Harris. Lha… ketika cara kehidupan itu dihapus secara radikal, maka kekacauanlah yang akan dihasilkan. Oleh karenanya, jalan yang bisa ditempuh adalah mengupayakan yang lebih sedikit madharatnya. Dan menurut saya, itu adalah dengan cara gerakan ‘pendataan’, sembari juga mengkampanyekan tret tet tet yang bijak sesuai konteks zaman. Dulu seh enak, dehumanisasi masih sedikit, lha sekarang? Maka dari itu, kita sepakat estafet musti dikurangi. Seiring berjalannya waktu semoga Bonek diberi kekayaan yang luar biasa, bahkan bisa nyarter pesawat seperti dulu.
Susah? Tentu saja, tetapi bisa. Kalau dalam strategi bola, setiap generasi ada tokohnya, pun setiap tim ada kaptennya. Mengapa tidak kita coba? Setiap rombongan Bonek, tidak peduli memakai transport apa pun, harus didata dan dipilih satu sebagai penanggungjawabnya. Sekaligus juga kalau berhadapan dengan Bonek yang nggandol dikasih nasehat suruh nabung. Sampai sini saya harap tidak ada yang nyeletuk: losss gak rewel, gak kakean aturan.
Kepada Bonek yang masih muda–termasuk saya–untuk merubah paradigma narsis ke sebetul-betulnya eksistensialis. Saya yakin, kita di usia muda sedang mengalami masa mencari ruang eksistensi; menuruti kemauan hati; memuaskan dahaga emosi. Namun perlu diingat, kata Sartre “…there is no non-human situation” (tidak ada situasi yang “tidak manusiawi”). Dan manusiawi dalam alam Indonesia–berbeda dari Sartre yang di Prancis sana-, yakni “ksatria” yang tajam tapi tidak membuat luka sembarangan.
Kepada media yang mengafiliasikan diri kepada Persebaya untuk menyampaikan komunikasi tanpa distorsi (pemutarbalikan) dan reduksi (pemotongan). Sekaligus juga terlibat dalam war of opinion (perang opini) dengan media mainstream yang kebanyakan, meski tidak semua, mem-pressure Bonek dan Persebaya dengan tanpa tabayyun (klarifikasi) sebelumnya.
Kepada seluruh manusia yang pernah melihat, mendengar, atau mengenal Persebaya untuk kembali merenungkan kata ‘Fairplay’ yang sempat menghiasi spanduk di salah satu sudut stadion. ‘Fairplay’ itu manifestasi dari ‘keadilan’ baik di dalam maupun di luar lapangan, oleh dan bagi siapa pun. Tentang keadilan ini, agama dan naluri kemanusiaan kita lebih peka daripada tulisan saya. Silahkan direnungkan, la’allakum tatafakkarun.”
Saya : “Sudah selesai, mick.”
Micko : “Dapat apa kamu dari tulisan itu?”
Saya : “Duh…lupa, tetapi yang pasti, saya ingat betul lima paradigma baru keluarga besar Persebaya.”
Micko : “Bagus, memang itu yang tak harapkan. Cukup itu saja. Jangan banyak-banyak nanti muntah. Haha. Ya sudah, saya pamit dulu, sudah ditunggu. Senang mengenalmu, hadz. Dalam jangka waktu yang entah berapa lama, kita akan berjumpa.”
Saya : “Hendak ke mana kamu? Ditunggu siapa? Itu siapa yang jemput kamu? Kok pakai baju putih semua?”
Micko : “Rahasia… wes lah, wassalamu’alaikum dulur”
Saya : “Yo wes sak karepmu… hati-hati. Jangan lupa baca al-Baqarah ayat 154, biar semangat di jalan, begitu nasehat kiai-ku. Selamat tinggal, mick. Wa’alaikumsalam dulur.”
Suasana mendadak hening. Tetiba, sesaat paska kepergian Micko, seseorang menghampiri saya. Dengan lirih ia berbisik, “dalam hal keutamaan dan tanggung jawab, kita banyak belajar dan berhutang budi pada sepak bola.” tegas orang tua yang dipanggil Albert Camus oleh para pengelana itu.

 

NB: Saya dedikasikan tulisan ini untuk almarhum Micko Pratama, korban pengeroyokan di Solo.Sengaja saya kirim ke web Greennord untuk menghormati almarhum yang terlihat riang saat berdiri di tribun utara. Sebagai harapan, ia pun akan melakukan hal yang sama di tribun surga: bernyanyi dengan riang gembira. Amiiin.

*Ferhadz AM, Kalijaga Class Bonek Jogja

Related posts

Ratu Tisha, Kamu Menggemaskan Deh

administrator

Teror Bonek Rusak Fokus Pemain Lawan

Redaksi Green Nord 2

Ini Suara Kami, Bonek Suporter Persebaya

Redaksi Green Nord

4 comments

Tissa 16 April 2018 05:11 WIB at 16 April 2018 05:11 WIB

Keren banget tulissnnya.. Semoga menyadarkan semoga menjadi inspirasi semua bonek. Ditunggu tulisan2 berikutnya..

mas irul oi 30 April 2018 20:59 WIB at 30 April 2018 20:59 WIB

Min. Tolong info tiket. Ketekan arek tuban akeh min tolong,,,

mas irul oi 30 April 2018 21:01 WIB at 30 April 2018 21:01 WIB

Info tiket minnnn

Dudi Gunawan 3 November 2018 14:11 WIB at 3 November 2018 14:11 WIB

Alhamdulillah sepenggal cerita Bonek…tapi di ruang hati kami ,,,Bobotoh ….Bonek d Jabar khusus nya… Alhamdulillah…lur..bravo .semoga kebersamaan kita pecinta bola klub kesayangan tidak ternodai…amin

Comments are closed.

error: Content is protected !!