Persebaya

Sistem Ticketing, Management Tak Manusiawi

SURABAYA-GN27.COM : Dalam lanjutan Liga 1 Indonesia yang mempertemukan Persebaya Surabaya melawan Arema Fc, adalah pertandingan yang sangat ditunggu-tunggu oleh para suporter Bonek, dan penikmat sepakbola di tanah air. 

Antusiasme ini sudah terlihat sejak dibukanya layanan ticket box oleh management, pada hari pertama terdapat tiga titik yang menjadi poros penjualan tiket pertandingan yang akan digelar pada Sabtu (06/05/2018) esok ini, yakni Kenjeran Park, Gelora Bung Tomo, dan Korem Bhaskara Jaya. Meskipun telah disebar sebanyak tiga titik, namun tetap saja penumpukan massa masih terjadi.

Sayangnya, apa yang terjadi pada hari pertama penjualan tiket tersebut tak lantas membuat pihak management maupun panpel berbenah, justru kebijakan konyol yang mereka keluarkan. Penjualan hari kedua saja misalnya, kebijakan konyol tersebut dilakukan oleh management dengan hanya membuka tiket box di satu titik, yakni Korem Baskara Jaya Jl. A. Yani Surabaya.

Alasan Ketua Panpel Persebaya yang juga menjabat sebagai Wakil Walikota Surabaya, Whisnu Sakti Buana mengatakan, dipilihnya Makorem Bhaskara Jaya sebagai satu-satunya ticket box adalah demi menciptakan rasa aman dan nyaman kepada seluruh suporter atau masyarakat yang ingin membeli tiket.

Alasan ini, menurut kami adalah statement terbodoh yang dikeluarkan oleh pihak sekelas ketua panpel pertandingan. Mari kita simak selengkapnya.

Faktor pertama adalah keamanan. Bayangkan, jika ribuan bonek dan masyarakat yang ingin membeli tiket dipusatkan menjadi satu titik kumpul di lokasi ticket box, tentu hal ini menjadi pemicu rawan terjadinya gesekan. Yang paling berbahaya adalah jika sudah keos, kerumunan massa menjadi sulit dikendalikan dan kemudian pemicunya saling dorong, maka kemungkinan terburuk adalah hilangnya nyawa seseorang karena jatuh dan terinjak-injak. Dari pertimbangan ini, terlihat pihak panpel telah mengabaikan pertimbangan keamanan untuk para suporter.

Faktor kedua adalah kenyamanan. Rasa nyaman yang seperti apa, jika penumpukan massa yang sedemikian padat, ribuan, tumpah ruah hanya dalam satu titik kumpul saja. Belum lagi faktor cuaca teriknya suhu Kota Pahlawan, tentu ini juga akan menguras ketahanan fisik para suporter yang berdesak untuk antri membeli ticket. Lagi lagi, kemungkinan terburuk dari hal ini adalah hilangnya nyawa seseorang.

Faktor ketiga adalah tim medis. Sudahkan pihak management dan panpel menyiapkan tim medis untuk tetap standby jikalau ada kemungkinan terjadinya hal-hal yang buruk sekalipun. Apakah hanya cukup mengandalkan pasukan militer yang notabene anggota Korem Bhaskara Jaya saja.

Faktor keempat adalah, apakah pihak management dan panpel sudah berhitung, kelayakan sistem penjualan atau distribusi tiket yang hanya tersedia disatu titik saja, bukankah CUSTOMER berhak mendapatkan pelayanan yang terbaik.

Jika pihak management memang menganggap kami adalah CUSTOMER, pesan kami kepada Presiden Klub Azrul Ananda dan Manajer Tim Chairul Basalamah, serta Ketua Panpel Pertandingan Whisnu Sakti Buana berikan layanan yang terbaik dan manusiawi untuk kami.

Jika cara-cara seperti ini terus yang dilakukan, maka kami yang anda sebut sebagai CUSTOMER punya hak untuk menuntut dan melaporkan jika dirasa perlu kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Sesuai yang tertulis dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pada pasal 4 A, yang berbunyi, hak konsumen adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa. Dan kemudian pada pasal 4 D, yang berbunyi, konsumen berhak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa uang digunakan.

Rasa kecewa ternyata dibenarkan oleh salah satu Bonek yang bernama Agus. Semenjak mendapatkan info ticket box hanya akan dibuka di Korem Bhaskara Jaya, ia berinisiatif berangkat menuju lokasi sejak pukul 04.00 WIB pagi.

Ia menuturkan jika tidak begitu, maka besar kemungkinan ia tidak akan mendapatkan tiket pertandingan esok.

“Semua orang tau bagaimana antusiasnya Bonek menunggu laga ini, lalu pertanyaannya adalah, mengapa pihak management dan panpel justru hanya memakai satu titik ticket box saja, bukannya malah memperbanyak alur distribusi ticket untuk meminimalisir penumpukan massa. Jika memang seperti ini kondisinya, apakah salah jika kami memiliki anggapan bahwa sistem penjualan tiket ini gagal, dan pihak management dan panpel pertandingan hanya memikirkan untung besar saha tanpa mimikirkan kenyamanan dan keamanan kami yang katanya CUSTOMER mereka,” tegasnya.

Related posts

KARENA PERSEBAYA MEMILIKI NILAI ROMANTISME TERSENDIRI

Redaksi Green Nord 2

Tak Hanya Slogan, #BanggaBeliAsli Adalah Ideologi Tim

operator website

Semusim Menjaga Kejayaan

Redaksi Green Nord
error: Content is protected !!