Bonek

Persebaya, Balas Loyalitas Kami Dengan Kemenangan

SURABAYA-GN27.COM : Sehari menjelang pertandingan panas sarat gengsi, akan segera dilaksanakan pukul 15.30 WIB di Gelora Bung Tomo yang mempertemukan Persebaya Surabaya vs Arema Fc dalam lanjutan Liga 1 Indonesia. Hingar bingar, riuh gegap gempita suporter telah terasa sejak H-5, mulai dari antrean padat untuk membeli tiket, hingga mempersiapkan segala bentuk teror yang akan digunakan di dalam stadion saat pertandingan.

Meski tim kubu lawan tengah dilanda dualisme management, harus diakui hal tersebut tidak menyurutkan antusisame dari Bonek untuk tetap hadir memberikan dukungan secara masif kepada tim Bajol Ijo di dalam stadion.

Hal ini juga diakui oleh salah satu pentolan Bonek, Andi Peci. Menurutnya, laga besok masih berasa ada yang kurang dari segi historis pertemuan kedua tim. Seperti yang kita ketahui, Arema Fc saat ini adalah merupakan hasil kloningan dengan Pelita Jaya pada 24 September 2012.

“Pertarungan gengsi pada pertandingan esok terasa masih kurang greget karena yang akan kita hadapi adalah Arema yang bukan lahir pada tahun 1987. Meski begitu, kawan-kawan suporter Bonek tetap menganggap pertandingan ini adalah pertaruhan gengsi harga diri identitas kota,” katanya saat di wawancarai tim Greennord27.com.

Ia bercerita, Bonek saat ini telah menjadi identitas suporter yang sejati. Bahwa mereka (Bonek, red) tidak pernah memandang remeh tim manapun yang menjadi lawan Persebaya.

“Oleh karena itu di dalam hati, kami meyakini bahwa mendukung Persebaya dalam setiap pertandingan haruslah all out, tidak peduli siapapun lawannya,” lanjutnya.

Filosofi Loyal, Royal, Total

‘Persebaya adalah simbol kebanggan’ satu kalimat yang menjadi keyakinan bersama oleh Bonek dimanapun berada. Tak hanya itu, tim yang berdiri sejak tahun 1927 ini adalah salah satu identitas kota yang harus dipertahankan. Tak heran, banyak dari setiap individu suporter rela melakukan pengorbanan apapun demi dapat mengawal, dan memberikan dukungan secara langsung di stadion tempat Persebaya berlaga.

Bagi Green Nord 27 Tribune, mengartikan sebuah kata ‘kebanggaan’ adalah dengan memberikan dukungan kepada Persebaya melalui spirit Loyal, Royal, dan Total. Spirit ini, seakan menjadi ideologi bersama bagi para Bonek penghuni Green Nord 27 Tribune dalam mewujudkan cintanya kepada tim kebanggaannya.

#Loyal. Bagi masyarakat umum, mendengar kata Bonek, pasti akan selalu menjadi bahan perbincangan ketika Persebaya akan bertanding, khususnya jika laga away. Image historikal tersebut berkat loyalitas dan militansi Bonek yang selalu hadir di kota atau daerah manapun untuk mendukung tim kebanggaan. Loyalitas ini telah terlihat sejak Bonek menggoreskan sejarah sebagai suporter klub pertama di Indonesia yang melakukan perjalanan away days, atau lebih dikenal dengan istilah tret-tet-tet, saat itu Persebaya harus mengahadapi PSM Medan dalam lanjutan babak enam besar Liga Perserikatan tahun 1986/87.

Api semangat perjuangan ini, nampaknya mampu dipahami betul oleh Bonek generasi sekarang yang juga menjadi penerus tongkat estafet atau regenerasi dari para pendahulunya.

Salah satunya adalah Tara, pria berusia 25 tahun ini mengungkapkan, ketika mendengar nama Persebaya, di sana tak hanya sekadar sebuah klub sepakbola, namun juga terdapat harga diri, dan kebanggan yang harus dipertahankan. Menurutnya, sejak kemunculannya, Persebaya adalah merupakan identitas Kota Surabaya, sehingga mengawal dan mendukung Green Force sama halnya juga menjaga martabat nama Kota Surabaya dalam kancah sepakbola tanah air.

“Yang saya pahami adalah, sebagai Bonek menjadi wajib hukumnya untuk mendukung secara langsung dimana Persebaya berlaga. Karena tak hanya sekedar memperebutkan tiga point agar menjadi sang juara, melainkan lebih dari itu, kami membawa kebanggan Kota Surabaya pada umumnya,” ungkapnya.

#Royal. Dikenal sebagai salah satu suporter paling berisik ketika berada di dalam stadion, kelompok suporter yang memiliki basis di tribun utara Gelora Bung Tomo ini rela menyisihkan sebagaian pendapatan mereka untuk tidak saja menjadi alokasi pembelian tiket pertandingan, melainkan juga dipergunakan dalam proses pembuatan aksi-aksi kreatif seperti, koreo 3d, hingga hujan roll paper. Meski banyak diisi oleh para pelajar dan mahasiswa, mereka tak segan merogoh kocek pribadi untuk hal-hal tersebut.

Seperti Agung.S misalnya, jika hanya memakai cara hitung-hitungan angka, nominal Rupiah yang ia keluarkan mungkin telah diluar angka logis jika dilihat dari sudut pandang suporter biasa.

“Opo ae gae Persebaya, los ga atek rewel (apapun itu untuk Persebaya, tak ada kompromi),” tegasnya.

#Total. Sejarah mencatat, sejak nama Persebaya dipaksa mati oleh federasi melalui berbagai macam intrik politik, secara simultan dan tak kenal lelah Bonek hadir untuk terus bersuara, dan berteriak bahwa ada yang salah dalam pengurusan PSSI pada saat itu, yang salah satunya menjadi korban kebrobokannya adalah Persebaya.

‘Tak berlaga bukan berarti tak ada’ menjadi sepucuk kalimat pembungkus semangat perlawanan Bonek selama lima tahun demi menghidupkan klub yang sarat prestasi dalam kancah pesepakbolaan nasional ini. Tak hanya itu, nama Persebaya juga terkenal sebagai lumbung penghasil pemain timnas yang bersinar pada setiap era. Nama-nama seperti Bejo Sugiantoro, Mursyid Efendi, Uston Nawawi, Hamka Hamzah, Andik Vermansyah, hingga Evan Dimas, adalah produk-produk yang matang dalam berproses bersama tim yang memiliki logo ikan hiu dan buaya ini.

Sebagai tim sepakbola, Persebaya adalah klub pertama kali dalam sejarah sepakbola Indonesia yang mampu meraih gelar juara liga sebanyak dua kali, Persebaya juga adalah tim pertama kali yang mampu mengawinkan gelar juara Divisi 1 tahun 2003 dengan gelar juara Divisi Utama kompetisi sepakbola PSSI di tahun 2004.

Catatan sejarah panjang inilah, yang kemudian menjadi keyakinan Bonek bahwa Persebaya tidak boleh mati, dan harus tetap hidup, alasan tersebut juga menjadi semangat untuk terus melawan sifat korup federasi kala itu.

Tahun demi tahun ketika para suporter lainya bernyanyi, bersorak di dalam stadion, Bonek menjelma menjadi satu satunya arus suporter yang berani fight melawan kebijakan merugikan yang dilahirkan oleh federasi.

“Apapun akan kami korbankan demi menjaga marwah nama Persebaya. Segala daya upaya telah kami lakukan secara kongkrit untuk mendukung. Bayangkan, Bonek menjadi satu satunya suporter yang dapat membuat klubnya hidup kembali. Jika memang ada pihak manapun yang meragukan totalitas kami dalam hidup menjadi suporter Persebaya, sebaiknya baca catatan sejarah sepak bola nasional terlebih dahulu,” jelas Joko Caplie.

Tak lupa, Capo Ipul juga menyampakan pesan ini kepada seluruh Bonek yang akan hadir dalam pertandingan esok hari.

“Sejatinya suporter adalah mendukung tim kebanggaan, dalam hal ini Persebaya Surabaya, dan memberikan teror psikis kepada tim lawan. Maka, ketika sekali kaki anda semua menginjak tribun di stadion, berteriaklah, bernyanyilah yang lantang, karena suara kalian merupakan bahan bakar utama pemain di lapangan. Jangan ragu untuk melakukan itu di stadion, tidak peduli kamu berada di tribun manapun, bahkan termasuk VIP dan VVIP sekalipun,” pungkasnya.

Related posts

BONEK YANG SELALU KREATIF DAN ATRAKTIF

Redaksi Green Nord 2

Pledoi Bonek

Redaksi Green Nord

Mafia Fc Dilarang Menang di Surabaya

administrator
error: Content is protected !!