Bonek

Kapolresta Surakarta Silahkan Lepas Atribut, Biar Kami yang Akan Usut

SURABAYA-GN27.COM: Masih hangat dalam ingatan kami, pada tanggal 15 April 2018, pada saat itu saudara kami Micko Pratama melakukan perjalanan pulang menuju Surabaya setelah mendukung Persebaya dalam lanjutan Liga 1 PSSI kontra PS. Tira. Ia bersama rombongan Bonek lainya dikeroyok dan dianiaya oleh sekelompok pemuda di Solo, namun naas bagi Micko, ia dipukuli oleh beberapa pemuda dengan menggunakan senjata tumpul hingga meregang nyawa.

Setelah kasus pembunuhan tersebut ramai diangkat ke publik oleh media massa, pihak Polresta Surakarta bergerak cepat dengan menangkap lima terduga pelaku. Dimana dua diantara telah ditetapkan menjadi tersangka pada 19 April 2018. Dipimpin oleh Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ribut, penyidik membuat penjelasan melalui media massa dengan mengatakan, para pelaku akan diancam jeratan pasal berlapis yakni 170 ayat 1 dan 2 KUHP tentang pengeroyokan dan penganiayaan yang menyebabkan kematian, serta Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman maksimal hukuman 17 tahun penjara.

“Percayakan kepada kami, pasti akan kami usut tuntas secara profesional, kita akan terus mengejar para pelaku yang masih kabur,” Ucap Kapolresta seperti dilansir dari Tribun Jateng.

Lantas, setelah lima bulan kasus ini bergulir, bagaimana kelanjutan jelas juga vonisnya? Hanya Tuhan dan Kapolresta Surakarta yang tahu.

Sebelumnya, pihak penyidik telah menetapkan total lima tersangka. Artinya bertambah tiga tersangka baru dari perkembangan penyelidikan ditahapan proses awal hukum. Dimana dari kesemuanya terdiri dari tiga masih dibawah umur, dan dua adalah orang dewasa.

Setelah penetapan lima tersangka, barulah pihak penyidik mengirimkan berkas perkara kepada Jaksa Penuntut Umun (JPU) di Kejaksaan Negeri Surakarta. Dari proses ini, terdapat sebuah kejanggalan yang dilakukan oleh para penyidik. Melalui dua anggota JPU Kejaksaan, mereka mengungkapkan bahwa telah dilakukan pengembalian berkas perkara ke penyidik Polresta Surakarta.

Menurut pihak JPU, dikembalikannya berkas perkara karena tidak adanya nama saksi yang turut diajukan didalam berkas perkara. Oleh karena itu, berkas ini tidak bisa berubah status menjadi P21. Jikalaupun dengan kondisi demikian tetap dipaksakan dalam ranah persidangan, tentu ini menjadi celah hukum tersendiri dan bisa digugat kembali oleh para terdakwa nantinya.

Dari rentetan peristiwa hukum di atas, lucunya telah terdapat beberapa Bonek yang merupakan teman-teman seperjalanan bersama Micko saat itu, yang telah dimintai persetujuannya oleh Polresta Surakarta dengan menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) untuk dimintai keterangannya sebagai saksi kejadian.

Namun, beberapa Bonek tersebut mengaku hingga saat ini belum mendapatkan panggilan resmi dari pihak penyidik untuk memberikan keterangan sebagai pelengkap materi berkas perkara.

Melihat fakta tersebut, muncul indikasi bahwa perkara pembunuhan yang dialami Micko Pratama sengaja digantung atau di ‘Peties’kan. Terlihat tidak ada upaya untuk menuntaskan berkas perkara atas nama tersangka untuk kemudian melengkapi berkas sehingga bisa dinyatakan oleh pihak kejaksaan menjadi P21. Namun disamping itu, penyidik juga tak mengeluarkan atau menerbitkan Surat Pernyataan Penghentian Penyidikan (SP3)

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, ditengah bukti rekaman video yang telah tersebar menjadi konsumsi publik, dan terdapat banyak saksi hidup dari peristiwa di atas, ada apakah yang sedang terjadi di jajaran Polresta Surakarta? Jika kepada aparat hukum saja tidak mampu menegakkan dan memberikan kepastian hukum yang adil bagi seluruh masyarakat, lantas kepada siapa lagi kita berharap dan meminta keadilan? (AP)

Related posts

Aduhh.. Suporter Big Match, Klubnya Mengeluh

administrator

Education and Entertaining, GN Fest Will be Continue

operator website

Sampai Bertemu Di Gelora Bung Tomo

Redaksi Green Nord
error: Content is protected !!