Bonek Persebaya

Jangan Kasih Ampun Tim Kloningan

SURABAYA-GN27.COM: 18 Juni 1927 menjadi hari bersejarah bagi sepakbola Surabaya. Melalui nama Soerabajasche Indische Voetbal Bond (SIVB) adalah cikal bakal terlahirnya Persebaya Surabaya. Klub ini jugalah beserta klub perserikatan lainya yang kemudian melahirkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), meski sempat dimatikan melalui konspirasi mafia federasi, namun dengan keyakinan akan memperjuangkan kebenaran sejarah tim serta lewat perjuangan para suporter dan segenap pecinta sepakbola Surabaya, Persebaya mengalami reinkarnasinya setelah kurang lebih drama enam tahun mati suri.

Melihat peristiwa di atas, tak sepatutnya Persebaya berkecil hati atau bahkan minder melawan tim yang lahir dari kloningan kepentingan bisnis ‘sang papa’, meski kita akan bertanding di kandang lawan. Mari kita lihat perbandingan antara Arema Fc dengan Persebaya.

Arema Fc saat ini menggunakan nama PT. Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia (AABBI) sebagai legal standing. Duduk sebagai Direktur Utama adalah Iwan Budianto yang merangkap jabatan sebagai Kepala Staff Ketua Umum PSSI Edy Rahamayadi, Iwan juga menguasai 70% saham Arema Fc senilai Rp 1,75 Milliar (dilansir dari Tirto.id per 3 Maret 2015).

Sekilas tentang klub, mengutip dari pemberitaan media massa Tirto.id PT. AABBI pertama kali diperkenalkan ke public pada 2 Januari 2016. Saat itu, Arema Fc masih bernama Arema Cronus, sedangkan pergantian dari Arema Fc dan Arema Cronus terjadi pada 20 Desember 2016. Konflik Arema bermula pada temuan Jawa Pos bahwa Arema Cronus saat itu mengaku pemilik sah dari PT. Arema Indonesia tak memiliki NPWP. Justru NPWP tersebut dimiliki oleh Arema Indonesia yang dikontrol oleh Novi Acub Zaenal istri pendiri Arema.

Sejak 2011, dualisme klub asal Malang ini saling mengklaim sebagai pemilik sah PT. Arema Indonesia. Berdeda dengan Cronus, Arema Indonesia selalu bertentangan dengan rezim Ketua Umum PSSI La Nyala Mataliti, hal inilah yang membuatnya vakum sejak 2012 dan mengikuti kompetisi Indonesia Premier League. Di bawah rezim Iwan Budianto saat ini kekayaan Arema Fc mencapai Rp 761 Milliar.

Suporter, memiliki kelompok suporter yang bangga dengan segala atribiut berwarna biru ini, ternyata tak seloyal dan sefanatik pada realitanya. Hal tersebut terbukti melalui rilis yang dilakukan oleh operator liga tentang kepadatan suporter saat pertandingan. Parahnya, Aremania tak masuk dalam list lima besar suporter yang paling banyak hadir di stadion. Padahal mereka lantang dan sering malabeli diri sebagai suporter dengan basis massa yang terbesar.

Persebaya Surabaya, sempat mengalami dualisme management pada musim 2009/2010, namun dengan keteguhan hati, Bonek menjadi pagar dan melawan tirani PSSI pada saat itu dengan jihad mempertahankan sejarah Persebaya Surabaya. Persebaya sempat mengalami degradasi ke Divisi Utama akibat dipaksa melakukan pertandingan ulang sebanyak 3 kali melawan Persik Kediri dengan tempat yang berbeda, yaitu Kediri, Yogyakarta, dan Palembang. Pada pertandingan ulang ketiga inilah pihak management Green Force menolak melakukan pertandingan.

Sekilas tentang klub, saat ini tim berjuluk Bajol Ijo menggunakan nama PT. Persebaya Indonesia sebagai legal standing. Dipimpin oleh Azrul Ananda sebagai Presiden klub, Persebaya bertranformasi menjadi klub professional. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak adanya management Persebaya yang ikut terseret arus politik dan lingkaran elit federasi. Dibawah kelihaian berbisnis versi Azrul, kini Persebaya menjadi klub terkaya kedua di Indonesia dengan nilai Rp 2,24 Triliun.

Suporter, dikenal dengan nama Bonek, kelompok supporter yang satu ini mendapat predikitan dengan semangat militannya ketika mendukung tim kebanggaan berlaga. Bonek, bahkan menjadi perhatian utama oleh segenap pecinta sepakbola tanah air, mulai dari pengamat, federasi, media massa, hingga masyarakat secara luas. Segala tindak tanduk Bonek selalu menjadi headline pembahasan yang selalu mengiringi kiprah Persebaya dalam kancah sepakbola di tanah air. Bonek juga telah membuktikan bahwa, tak ada satupun yang harus ditakuti ketika terdapat elemen yang secara sengaja akan membunuh tim kesayangan Arek-Arek Suroboyo. Bahkan, Bonek bisa jadi menjadi suporter yang konsisten dengan keberanian melawan kebengisan rezim penguasa di federasi (PSSI). Tak cukup sampai disitu, Bonek tercatat sebagai suporter terbanyak yang memenuhi tribun stadion setidaknya hingga pekan 18 Liga 1 PSSI, informasi tersebut juga dikeluarkan secara resmi oleh pihak operator, total jumlah Bonek yang hadir di stadion mencapai 248.878 penonton, atau dengan avarage sebesar 31.000 penonton per pertandingan.

Dari uraian diatas, jelaslah sudah bahwa Arema Fc dan Aremania bukanlah lawan tanding yang sepadan, mereka terlalu lemah baik ditinjau dari segi manapun bagi Persebaya Surabaya beserta Bonek. Oleh karena itu, satu semangat yang kami (Bonek, red) yakini dan ingin kami sampaikan sebagai gairah dan semangat untuk para pemain, Jangan Pernah Takut Bermain di Malang, Buatlah Bangga Kota Pahlawan.

No Mercy For All, Salam Satu Nyali, WANI. (AP)

Related posts

Makna Dibalik Setiap Aksi Koreo Green Nord 27 Tribune 

Redaksi Green Nord 2

#bonekumentary. Satu Bonek Untuk Semua

operator website

Di Balik ‘Persebaya Emosi Jiwaku’

operator website