Bonek

Mafia Fc Dilarang Menang di Surabaya

SURABAYA-GN27.COM: Tentu kita masih ingat bagaimana Persebaya Surabaya dikalahkan saat bertamu di kandang Borneo Fc pada putaran pertama lalu, Jumat (11/05/2018). Kala itu, Bajul Ijo bermain seri dengan skor 2-2, saat Persebaya unggul dan dibalas melalui gol tandukan kontroversi dari Lerby Elliandry Pong Babu di penghujung laga.

Jika dilihat reka ulang prosesi gol dari Lerby, sebenarnya dirinya telah berdiri dalam posisi offside. Namun anehnya gol tersebut luput dari penglihatan hakim garis dan disahkan oleh wasit utama. Atas peristiwa tersebut, tak lantas mengherankan jika kemudian banyak elemen dan stake holder sepakbola tanah air mempertanyakan kualitas kinerja wasit dalam setiap pertandingan Liga 1 PSSI.

Di kasta tertinggi sepakbola professional tanah air, perangkat wasit saja tidak bisa membedakan mana posisi onside dan offside, lantas bagaimana masyarakat bisa percaya seutuhnya bahwa sepakbola Indonesia bersih dari praktik-praktik suap. Belum lagi, masih adanya tebang pilih dalam penindakan sanksi melalui komdis PSSI.

Wasit Freelance

Dalam sebuah pertandingan apapun, terlebih olahraga yang menjunjung tinggi rasa sportifitas, keberadaan wasit sebagai pengadil menjadi penting perannya untuk menjaga batas-batas keadilan selama para atlet bersaing untuk menjadi pemenang. Keadilan yang dimaksud adalah keputusan atau judging yang dijatuhkan tidak menguntungkan salah satu pihak selama wasit tersebut memimpin pertandingan.

Dalam praktiknya di persepakbolaan Indonesia, justru para wasit inilah yang menciderai marwah dari profesinya sendiri. Sebagai contoh saja, nama Dodi Setya Purnama akhir-akhir ini menjadi bintang utamanya. Bagaimana tidak, karena kualitas kinerjanya yang buruk, sebenarnya Dodi sudahlah dipecat sebagai wasit Liga 1 PSSI. Sebiji gol Arema Fc adalah berawal dari aksi diving pemain nya, yang kemudian dikonversi oleh Dodi sebagai pelanggaran. Tak disia-siakan, melalui skema tendangan bebas akhirnya Arema Fc mampu menjebol gawang Persebaya.

Tak berhenti sampai disitu, hal serupa juga pernah dilakukan oleh Musthofa Umarella. Ia adalah wasit utama saat memimpin laga Borneo Fc kontra Persebaya pada putaran pertama. Tak jauh berbeda, Musthofa Umarella juga meloloskan gol tandukan Lerby yang sudah berdiri pada posisi offside.

Melihat uraian fakta peristiwa di atas, sebenarnya PT.LIB selaku operator Liga 1 PSSI mempekerjakan wasit freelance. Mereka (wasit, red) sebenarnya dibayar bukan memimpin pertandingan olahraga, melainkan sebagai calo skor pertandingan olahraga.

Ketika belahan dunia lainya seperti Eropa dan Amerika sudah merancang meminimalisir potensi human error dari wasit, sehingga tercetuslah teknologi VAR. PSSI dan PT.LIB justru terang-terangan mengandalkan wasit sebagai media transaksi gelap di dunia sepakbola tanah air. Mungkin slogan fair play dari FIFA tak layak dikibarkan di kancah sepakbola tanah air. (AP)

Related posts

MENELISIK TRADISI MUDIK SEBAGAI RITUS BUDAYA

Redaksi Green Nord

Bersama Menjaga Kejayaan

Redaksi Green Nord

‘Atittude’ Our Tribun Our Rules?

Redaksi Green Nord