Green Nord

Era Baru Itu Bernama Green Nord 27 Tribune

SURABAYA-GN27.COM: Tahun 2010-2011 tepatnya, kala itu ketika liga Indonesia sedang semrawut, belum lagi di musim tersebut peforma Persebaya sedang kalut, serta kesuraman suporter yang semakin akut. Munculah titik balik, sebuah era baru yang bernama Green Nord 27 Tribune. Atas inisiasi dan berangkat dari keresahan beberapa individu, mereka saling berkeluh melalui laman facebook, hingga akhirnya memutuskan untuk saling sua dan berbicara tentang gelisah yang serupa.

Ahmad Arif Chusnudin adalah salah satunya. Berkeinginan menciptakan kultur suporter yang cerdas, lalu bersepakatlah mereka merilis nama pertama Ultras Persebaya sebagai komunitas baru di lingkup Gelora 10 November, Tambaksari.

“Kopdar pertama kali kita lakukan di lapangan salah satu Universitas di Surabaya. Pertemuan tersebut, bertujuan untuk saling mengenal secara tatap muka, serta mencetuskan visi misi komunitas yang meyakini no racism, dan bernyanyi penuh selama 2×45 menit, dan menghidupkan gairah tribun utara Gelora 10 November yang kala itu mati suri,” katanya.

Memadukan ideologi ultras dengan kultur bonek yang telah mendarah daging, pria yang akrab disapa Kaji ini ingin melakukan rebranding bonek menjadi kelompok suporter yang kritis, kreatif, serta berpola pikir yang sehat.

Ultras sendiri adalah bahasa latin, dan jika ditilik dari artian secara harafiah adalah di luar kebiasaan. Sedangkan budaya orisinal suporter ultras sendiri salah satunya adalah tidak pernah berhenti bernyanyi chants atau yel-yel selama tim kebanggaannya bertanding. Tak hanya itu, mereka juga rela berdiri selama pertandingan, ideologi inilah yang kemudian di adaptasi serta dileburkan dengan kultur bonek yang terkenal akan militansinya, serta nyali dalam mendukung Persebaya dimanapun berlaga.

Tak ada yang mudah memang dalam merintis sebuah perbaikan. Berbagai penolakan, cibiran, hingga cacian tak pernah berhenti mengiringi perjalanan Ultras Persebaya. Sebagian besar suporter pada saat itu, menganggap komunitas ini melenceng dari jamaknya yang biasa bonek lakukan. Namun akan tetapi, para pendiri ini tak lantas surut dan menyerah begitu saja, mereka memahami bahwa masih sangat minim sekali penggemar sepakbola khususnya Persebaya yang paham akan ideologi ultras.

Berbagai cara lantas mereka lakukan, termasuk mengubah nama komunitas menjadi Bonek Tribun UC, dan dilanjut berubah kembali menjadi Bonek Curva Nord, hingga sampailah pada sebuah nama akhir yakni Bonek Green Nord 27, atau yang biasa disebut Bonek Tribun Utara, hingga saat ini nama itu telah disempurnakan menjadi Green Nord 27 Tribune.

“Awalnya memang namanya sebuah komunitas. Namun lambat laun, berkat kegigihan para pendiri, anggota komunitas ini bertambah terus. Akhirnya karena terlalu banyaknya anggota pada saat itu, baru bergeserlah menjadi nama sebuah tribun,” ceritanya. (AP/RA)

Related posts

Silang Sengkarut Sepakbola Nusantara

operator website

BLACK FOR JHONERLY SIMANJUNTAK

Redaksi Green Nord

Zero Accidents, Kampanye Cerdas Bonek Disasters Respons Team

Redaksi Green Nord
error: Content is protected !!