Bonek

Ini Fakta Persija Jakarta ‘Anak Papa’ Fc

SURABAYA-GN27.COM: Tentu bukan tanpa alasan jika FIFA selaku otoritas tertinggi sepakbola di dunia selalu mengkampanyekan ‘fair play’ sebagai jargon dalam setiap pertandingan. Jika ditilik secara harfiah arti dari fair play adalah permainan yang adil. Tak berhenti sampai disitu, PSSI-pun sebagai federasi juga tak sedikit menggaungkan kalimat sportivitas harus dijunjung tinggi dalam gelaran sepakbola di tanah air. Sebagai klub profesional yang terdaftar, tentu sudah menjadi kewajiban untuk mengikuti segala bentuk macam aturan main yang disepakati bersama. Lantas bagaimana dengan Persija Jakarta, sudahkah fair play dan sportif dalam mengarungi kompetisi Liga 1 PSSI? Ataukah ada pengecualian?

Laga Tunda

Sebagai klub profesional, Persija Jakarta adalah satu-satunya tim yang paling banyak menunda laga home. Seolah menjadi wajar bagi Persija untuk melakukan penundaan pertandingan karena tidak tersedianya stadion yang mereka gunakan sebagai home base. Habid ini pun dipermulus dengan tak adanya sanksi yang diberikan oleh federasi, andai saja dari semua 18 klub peserta kompetisi Liga 1 PSSI melakukan hal yang serupa, pantaskah dilabeli kompetisi profesional.

Sanksi Komdis

Sudah menjadi rahasia umum, denda atau hukuman yang diterima Persija adalah terendah jika dibandingkan dengn pelanggaran serupa yang dilakukan oleh tim lain. Masih ingat dengan peristiwa Bantul? Gagalnya pihak panpel pertandingan untuk menyediakan jaminan keaman adalah buntut dari pecahnya keos antara kedua pihak suporter.

Hal ini terbukti dengan tidak sigapnya pihak kepolisian untuk menghalau dan meredam pertikaian yang telah terjadi, sehingga suasana mampu kembali kondusif. Belum lagi proses refund tiket yang terlanjur terbeli oleh suporter juga tidak jelas bagaimana kelanjutannya, padahal terkait refund biaya tiket ini sudah dijanjikan oleh panpel Persija Jakarta jauh-jauh hari.

Peristiwa PTIK, melalui pihak panpel Persija Jakarta hanya suporter undangan yang boleh hadir secara langsung di dalam stadion untuk menyaksikan pertandingan secara langsung. Karena merasa sok jagoan, Fery Indrasyarif melakukan aksi pengusiran terhadap salah satu penonton. Setelah diketahui penonton ini adalah anak dari Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Imam Nahrawi, barulah permintaan maaf terlontar dari mulutnya. Andai saja penonton tersebut bukanlah anak dari Menpora, apakah hal yang sama akan dilakukan Ketua The Jak ini? Ditambah lagi, aksi peludahan suporter Persija Jakarta kepada Official Persebaya saat berada di lorong menuju lapangan. Bukankah ini cerminan sikap pengecut?

Dan lagi, tak ada hukuman yang dijatuhkan oleh komdis PSSI.

Big Bos, Elit Federasi

Mempunyai bos yang merangkap jabatan sebagai elit PSSI tentu sangat menguntungkan bagi klub. Tak perlu mengelak, karena hal ini tak sekali dan dua kali terjadi di kancah dinamika politik federasi. Namanya konflik interest sudah pasti akan terjadi, mungkin kesemua peristiwa di atas buah dari konflik interest dari sang bos. Masihkah mengelak kalau ‘Anak Papa’ Fc, sebagai suporter yang mempunyai logika sehat, seharusnya tidak diam melihat situasi seperti ini. (AP)

Related posts

Safari Ramadhan, Menengok Tradisi Berbagi Suporter

Redaksi Green Nord

Open loyalis GN Media

Redaksi Green Nord

Evaluasi? Omong Kosong.

operator website