Persebaya

Semusim Menjaga Kejayaan

SURABAYA-GN27.COM: Mengarungi musim kompetisi Liga 1 PSSI kali ini menjadi pembuktian yang krusial bagi Persebaya Surabaya. Pasalnya, tak sedikit harapan atau ekspektasi yang tinggi datang dari suporter dan para pecinta sepak bola tanah air. Di sisi lain, tim berjuluk Bajul Ijo ini datang sebagai tim promosi setelah menjadi kampiun Liga 2 PSSI di musim sebelumnya, yang secara otomatis kualitas kedalaman skuad pemainpun masih sekedar ala kadarnya.

Persebaya baru memulai perjalanan di kasta kompetisi tertinggi musim ini. Setelah skandal dualisme serta sempat tidak diakuinya oleh federasi, membuat tim yang berdiri sejak tahun 1927 ini tidak terlalu dijagokan dalam perebutan gelar juara. Hal ini dipertegas oleh statement Presiden Klub Azrul Ananda yang hanya menargetkan untuk finish di papan tengah atas. Kendati demikian, management Persebaya juga tak mau asal-asalan dalam melakukan kegiatan bursa transfer pemain. Hal ini ditandai dengan didatangkannya eksodus para eks pemain Persipura Jayapura, nama-nama seperti Ferinando Pahabol, Osvaldo Haay, Ruben Sanadi, Fandri Imbiry, Ricky Kayame, bersanding dengan pemain sarat pengalaman macam Octavio Dutra dan Robertino Pugliara.

Azrul Ananda yang mengkilap prestasinya berkat capaian Basket Ball Developmental melalui Deteksi Basket Ball League (DBL), juga menegaskan musim ini sangat penting bagi Persebaya untuk membangun basis dasar yang seimbang antara kemampuan finansial dengan komposisi tim. Pembelian pemain yang tepat guna sesuai kebutuhan, serta jejaring bisnis yang kuat, akan menjadi modal atau landasan tepat untuk meningkatkan daya saing yang berkelanjutan baik dalam kompetisi di dalam negeri atau bahkan jika berkesampatan bertarung dalam kompetisi tingkat internasional sekalipun. Sehingga, Persebaya Surabaya secara perlahan menjadi sebuah kekuatan sepakbola yang nyata di masa depan.

Alhasil, benar saja, bertarung menghadapi klub-klub yang lebih mapan dari materi kedalaman skuad pemain, serta masih beradapatasinya antara pemain baru dan lama, Green Force pada perjalanannya di awal musim sempat terseok-seok.

Bak roller coster penampilan Rahmat Irianto dkk mengalami pasang surut secara permainan tim. Meski, sempat bercokol beberapa pekan di papan tengah klasemen, namun lambat laun Persebaya justru kian lebih akrab dengan posisi degradasi di paruh musim. Puncaknya, ketika Persebaya Surabaya mendapatkan kekalahan saat melakoni laga tandang di markas Perseru Serui, kritikan keras datang dari para suporter. Para pemain yang saat itu dalam perjalanan menuju apartement, ternyata sudah ditunggu ratusan Bonek yang ingin bertemu dan menyampaikan kritik secara langsung. Mengetahui rombongan bus pemain memasuki area apartement, Bonek langsung berlari menghadang laju bus, dan tak pelak saat rasa kekecewaan para suporter yang telah memuncak, para pemain mendapatkan tindakan persekusi. Bus yang digunakan pun, menjadi sasaran pelemparan telor.

Bahkan beberapa hari sebelumnya, desakan untuk Alvredo Vera dan Chairul Basalamh sebagai pelatih dan manager tim agar segera angkat kaki, menyeruak dari suara para suporter.

Kejadian inilah yang kemudian direspon oleh management untuk melakukan evaluasi besar. Alvredo Vera yang berjasa membawa Persebaya naik kasta menuju kompetisi tertinggi sepakbola Indonesia akhirnya dilepas, beserta Chairul Basalamah. Untuk mengisi kekosongan kursi pelatih sementara waktu, ditunjuklah kemudian nama Bejo Sugiantoro sebagai caretaker Green Force. Bejo yang notabene legenda hidup Persebaya Surabaya, mendapat tugas pertama yakni mengembalikan kondisi psikologis pemain yang jatuh saat mengalami persekusi.

Peristiwa inilah yang kemudian menjadi titik awal kebangkitan Persebaya Surabaya. Bejo yang paham betul bagaimana karakteristik dan yang diinginkan oleh Bonek, mencoba mendoktrinasi para pemain dengan semangat ngeyel ciri khas Arek Suroboyo. Meski demikian, cinta dan militansi Bonek dalam memberikan dukungannya tak pernah luntur sedikitpun. Mereka tetap datang berbondong-bondong dan memenuhi setiap ruang kosong tribun.

Di sela itu, management juga bergerak cepat untuk mencari pelatih peangganti. Dan akhirnya terpilihlah Djajang Nurjaman sebagai suksesor Alvredo Vera serta Bejo Sugiantoro bergeser menjadi asisten Pelatih. Tak punya waktu banyak, Coach Janur sapaan akrabnya, menghadapi tugas berat untuk menyukseskan target finish papan tengah atas yang telah dicanangkan oleh Presiden Klub Azrul Ananada.

Secara perlahan, duet Janur-Bejo mulai menunjukan hasil positif. Disisa musim, Persebaya Surabaya kembali ganas dan mampu melibas klub favorit juara macam Persib Bandung, Persija Jakarta, dan PSM Makasar, serta Bali United Fc. Peforma gemilang inilah yang lantas kemudian mengatrol posisi Bajol Ijo merangkak naik di papan atas klasemen.

I Can’t Stop Falling in Love With You

Melihat, merasakan, sekaligus menjadi saksi kehebatan Bonek dalam memberikan dukungan kepada Persebaya Surabaya mengingatkan pada sebuah tesis yang ditelurkan oleh Sastrawan Inggris George Orwell. ‘Sepakbola berada diluar pikiran, imajinasi, dan tubuh kelaparan’ ya, memang begitu adanya. Butuh kata yang lebih dari arti sebuah cinta untuk dapat menggambarkan bagaimana pengorbanan mereka (suporter) terhadap tim kebanggaannya. Apakah harga diri? Nyatanya klub sepakbola era ini tak hanya digemari atau mempunyai basis suporter fanatik hanya di satu kota, artinya jika berbicara harga diri hanya masyarakat Kota Surabaya saja yang mencintai klub ini, akan tetapi tidak, hal ini tentu melebihi harga diri. Semuanya itu, diluar nalar, diluar akal sehat.

Dalam perjalanannya, ketika Bonek mendukung dan mengawal Persebaya berlaga selama kurun kompetisi Liga 1 PSSI 2018, ujian datang secara silir berganti. Tak sekali duakali Bonek mendapat cekalan dari pihak kepolisian, karena aparat yang katanya mengayomi itu masih memegang dogma atau anggapan lama yaitu mengidentikan kehadiran Bonek sebagai biang kerusuhan menganggu keamanan. Namun, itulah Bonek, sekali dilarang mendukung Persebaya semakin berlipat hasrat mereka untuk membangkang. Peristiwa awayday ke Magelang menjadi contoh nyata bagaimana Bonek tidak seprimitif yang seringkali dituduhkan oleh pihak-pihak tertentu. Kala itu, muncul surat edaran dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah yang berisi larangan bagi Bonek untuk mendukung Persebaya saat mengahadapi PSIS Semarang, nyatanya, tak kurang dari dua ribu Bonek hadir di dalam stadion dan membaur dengan suporter tuan rumah. Mereka saling bernyanyi, berbagi tribun, dan tidak ada gesekan sama sekali seperti yang dikhawatirkan. Pun hal yang sama ketika saat Bonek hadir di Stadion Surajaya Lamongan, hubungan Bonek dengan kelompok Lamnongan Fans yang saat itu masih rentan, sehingga membuat Kepolisian Resort Lamongan melarang Bonek datang, namun sekalai lagi, nyatanya mampu dijawab dengan kerukunan hingga tidak ada terjadi bentrokan dari kedua pihak suporter.

Sementara itu, rasa sentimentil terhadap Bonek juga datang dari element suporter lainya, para pemain klub rival, hingga petinggi federasi sekalipun. Dan kembali untuk yang kesekian kalinya, Bonek mampu menjawab anggapan negatif itu dengan bukti nyata. Bonek mampu menunjukan tranfromasi diri ketika memberikan dukungan di dalam stadion dengan tidak menyanyikan lagu yang bermuatan rasa kebencian terhadap individu, kelompok, atau bahkan klub lawan, sekalipun itu kepada Persija Jakarta. Catatan itu, hanya sekali dilanggar oleh Bonek ketika pertandingan Persebaya kontra Arema Fc, inipun dengan berbagai kompleksitas rivalitas yang masih belum terurai.

Bahkan, yang lebih mencengangkan, Bonek menjadi suporter yang paling rajin hadir di stadion ketika laga home Persebaya. Total hampir 500.000 ribu Bonek hadir selama gelaran kompetisi Liga 1 PSSI bergulir, jumlah ini mengalahkan kelompok suporter manapun di Indonesia. Tak berhenti sampai disitu, pada pertandingan terakhir dalam menutup musim, laga Persebaya Surabaya melawan PSIS Semarang, menjadi pertandingan yang paling megah dan meriah dari aspek kreatifitas suporter. Dimana seluruh sudut tribun stadion terdapat aksi koreo serta mozaik yang dipertontonkan. Pemandangan yang tak ditemukan dalam pertandingan antara klub yang memeperebutkan gelar juara liga sekalipun.

Seiring semakin banyak yang membenci Bonek, sebanyak itu pula upaya yang kami lakukan untuk berbenah, memodernisasi pola pikir, menjadi suporter cerdas, kreatif, serta mampu memberikan energi positif bagi kehidupan sosial di masyarakat.

Menutup musim liga 1 PSSI tahun ini, kami segenap kelurga besar Green Nord 27 Tribune memberikan apresiasi tinggi dan rasa terimakasih kepada seluruh pemain dan official, serta management Persebaya Surabaya, yang sudah bekerja keras penuh dedikasi untuk terus menjaga kejayaan secara bersama-sama. Sampai berjumpa kembali pada kompetisi musim depan. I Can’t Stop Falling in Love With You. Salam Satu Nyali, WANI.

Related posts

Tak Hanya Slogan, #BanggaBeliAsli Adalah Ideologi Tim

operator website

AREMA BUKANLAH APA-APA!

Redaksi Green Nord

Persebaya Pantas Tidak Menang

operator website
error: Content is protected !!