Bonek Green Nord Komunitas

MENELISIK TRADISI MUDIK SEBAGAI RITUS BUDAYA

MENELISIK TRADISI MUDIK SEBAGAI RITUS BUDAYA.

SURABAYA-GN27.COM: Beberapa sumber literasi menjelaskan kata ‘mudik’ berasal dari bahasa Jawa Ngoko yang berarti Mulih Dilik (pulang sebentar). Awal mula mudik sebenarnya adalah sebuah ritus bagi para pekerja yang bermigrasi ke kota-kota metropolitan pusat dari seluruh putaran perekonomian.

Namun, di Indonesia, mudik pada saat lebaran mulai berkembangan era tahun 70an.Tradisi mudik lebaran saat itu erat kaitannya dengan Hari Raya Idul Fitri. Keinginan pulang atas kerinduan dengan kampung halaman, mampu mentralisir segala bentuk-bentuk risiko kerepotan, bahkan secara psikologis, hal tersebut talk jarang dimaknai sebagai pemanis kemenangan.

Dikutip dari tulisan Miswari Solihah, Said Aqiel Siradj, menempatkan mudik sebagai konteks keberagamaan.

“Kembali ke fitrah sebagai upaya kesalehan yang bersifat spiritual-vertikal yang konkret, dan dimaknai lewat jalan kesalehan sosio-horizontal. Silaturahmi ini menjadi sarana sekaligus hasil. Dalam konteks sosio-horizontal, mudik dapat juga diartikan sebagai pulang surutnya kehidupan,” Terangnya.

Beberapa pengamat ahli mengatakan, mudik sebagai counterstream (arus balik migrasi). Memilih bermigrasi harus membuat kesiapan-kesiapan perubahan psikologis. Kebiasaan-kebiasaan di kampung halaman, tentu tidak bisa diterapkan semuanya di beberapa kota metropolitan seperti Jakarta dan Surabaya.

Kerinduan akan kultur hidup seperti itulah, yang akan terpenuhi saat pulang kampung di kala mudik lebaran. Ditambah lagi dengan Idul Fitri sebagai perwujudan untuk kembali ke fitrah, merupakan kerinduan yang amat manusiawi. Sehingga tradisi mudik pun berkelitan antara sosial-budaya, ekonomi dan keberagamaan.

Hal tersebut dipertegas oleh Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sudjito, Kamis (25/9) di Jogjakarta. Ia mengatakan, tradisi mudik ke kampung halaman untuk merayakan lebaran, akan selalu ada dan terus berlangsung dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Indonesia.

“Bagi masyarakat Indonesia, mudik ke kampung halaman belum bisa digantikan dengan kemajuan teknologi sekalipun,” Katanya.

Meski kemajuan teknologi menyediakan sebuah fitur seperti internet dan telephone yang mampu mendekatkan jarak antar individu, tapi dalam mudik terdapat beberapa aspek yang tidak bisa digantikan dengan kemajuan teknologi. Selain itu, teknologi belum menjadi budaya mendasar masyarakat Indonesia. Terutama yang berasal di wilayah pedesaan.

“Mudik akan selalu ada, meski ada kemungkinan suatu saat akan hilang,” Tuturnya.

MUDIK SEBAGAI RITUS BUDAYA.

Meski dalam perspektif yang sedikit sempit. Niels Mulder seorang Antropolog kelahiran Belanda tahun 1935 mengungkapkan, “Mudik adalah sebuah kebiasaan ketika bus dan kereta api, sarat penumpang dan kemacetan lalu lintas terjadi merata di seluruh Jawa.”

Dalam temuannya, Miswari kemudian menyatakan perkembangan saat ini kegiatan mudik terjadi merata di seluruh nusantara dan berbagai kelas ekonomi masyarakat.

“Melihat animo masyarakat mudik telah menggunakan pesawat, kereta api eksklusif, kapal, bus travel, serta tumpukan mobil pribadi. Artinya, mudik tidaklah di dominasi masyarakat kelas ekonomi menengah-kebawah,” Urainya.

Yang menarik lainya dari para pemudik ini adalah, kelas individu setingkat pejabat Menteri hingga pekerja cleaning service juga melakukan hal yang sama.

“Harus diakui, mudik dari berbagai positive dan negatifnya, bisa dikategorikan sebagai tradisi aneh. Aneh bukan dalam artian anomali atau penyimpanganpenyimpangan yang dipakai di lingkungan psikologi sosial dan sosiologi. Melainkan keanehannya, ketika orang-orang Jakarta, misalanya, rela meninggalkan harta, rumah, serta kekayaannya, sementara ancaman pencurian, penggarongan, mengincar rumah mereka setiap saat,” Ceritanya.

TIPS MUDIK ALA BONEK.

Bagi Bonek, perjalanan antar kota antar provinsi sudah menjadi hal yang biasa. Tatkala Persebaya melakoni laga tandang, gelombang keberengkatan suporter selalu mengiringi.

Seperti hal yang selalu dilakukan oleh Green Nord 27 Tribune. Dikenal dengan istilah tret tet tet, adalah sebuah sistem untuk mengakomodasi gelombang perjalanan away days para suporter.

Ketertiban itulah, yang juga patut diterapkan dalam perjalanan mudik.

Lalu apa saja yang harus diperhatikan, berikut ulasannya.

1. Aspek Kesehatan.

Menurut Tim Bonek Disaster Response Team (BDRT) faktor kesehatan fisik menjadi salah satu hal mutlak yang harus disiapkan. Seperti misalnya, harus istirahat minimal 6 jam sebelum melakukan perjalanan. Memenuhi segala kebutuhan kalori, ion atau cairan, dan tambahan vitamin C atau B kompleks untuk kekebalan tubuh.

2. Aspek Psikologis.

Pada kurun waktu yang sama, terdapat jutaan kendaraan yang akan tumpah ruah di jalanan. Nah, selama melakukan perjalanan, mengontrol emosi sangatlah penting, agar terhindar dari aktivitas menyetir yang ugal-ugalan, serta saling menghormati dengan pengguna jalan lainya.

3. Aspek Mode Transportasi.

Jika menggunakan kendaraan pribadi, lakukan service lengkap mulai dari kondisi tekanan ban, efektifitas sistem pengereman, hingga kinerja mesin.

Mudik akan terasa aman dan nyaman ketika kendaraan yang kita gunakan dalam keadaan layak, tanpa cacat teknis.

4. Aspek Keuangan.

Ketika akan melakukan perjalanan, tidak ada salahnya mulai mencatat segala kemungkinan yang akan mengeluarkan yang tunai. Hal ini dimaksudkan, agar para pemudik cukup membawa uang tunai seperlunya.

Tentu juga untuk meminimalisir dari segala kemungkinan sifat negatif seperti boros, riak, dan menjadi korban tindakan kriminal.

5. Aspek Transedental.

Aspek terakhir ini merupakan kepasrahan dari akan kekuatan yang lebih kekal. Artinya, ketika semua aspek secara material sudah kita persiapkan secara matang, kebutuhan yang terakhir adalah meminta perlindungan atas keselamatan dan kelancaran kepada Allah SWT.

Semoga dengan penjelasan dan tips di atas, dapat bermanfaat bagi Bonek dan siapapun yang ingin melakukan perjalanan mudik.

Dan tak lupa, kami keluarga besar Green Nord 27 Tribune mengucapkan. Taqaballahumina waminkum, Taqabbal ya Karim, Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Semoga kita semua, menjadi insan yang kembali fitri.

Salam Satu Nyali. WANI.

Related posts

Sampai Bertemu Di Gelora Bung Tomo

Redaksi Green Nord

Evaluasi? Omong Kosong.

operator website

‘Fokus Persebaya Prei Asmoro’ Spirit dan Romansa Micko Pratama di Tribun GreenNord

Redaksi Green Nord 2