Bonek Green Nord Persebaya

AREMA BUKANLAH APA-APA!

SURABAYA-GN27.COM: Memahami rivalitas sepakbola yang dibungkus dengan tajuk derby, pada umumnya terrepresentasi dari disparitas ekonomi, sosial politik, dan budaya.

Sejak perserikatan, kita memang sudah berivalitas dengan suporter Malang, yaitu Persema Malang. Namun, disatu sisi, eksistensial mereka yang perlahan menurun dari kasta tertinggi sepakbola nasional. Muncullah, klub baru yang dulu bernama Arema Malang, atau berganti nama Arema Indonesia, pernah menjadi Arema Cronus Pelita, hingga saat ini.

Sebagai klub baru, strategi mereka benar. Agar mudah dikenal, dan nama klub cepat disejajarkan pada level tim lain, mereka mendompleng nama besar Persebaya dengan cara menjadikan rival, bahkan sebagian menyebut derby.

Padahal jika ditilik dari sejarah klub, Malang saat ini (Arema, red) bukanlah sebuah pesaing yang sepadan bagi Bajul Ijo dari segala lini aspek.

Dari segi profesionalitas management, jelas melihat perkembangan bisnis saat ini, Persebaya bagai langit dan bumi dengan Arema.

Kemudian, sosial politik. Sebagai ibukota provinsi, Surabaya tentu menjadi central atention di Jawa Timur dengan segala hiruk pikuknya. Lalu dari disparitas ekonomi, kedua tim bukanlah klub yang lahir di kota yang sama, sehingga nyaris tidak ada kecemburuan sosial atas status ekonomi antara kedua kubu suporter. Terakhir aspek budaya, bahkan dari sudut pandang hal ini pun, keduanya memiliki hasanah masing-masing yang tidak bisa diseterukan.

Terakhir adalah aspek kapasitas suporter. Sudah menjadi catatan sejarah di dunia sepakbola tanah air, Bonek memiliki militansi suporter, dengan basis lebih besar dan merata di seluruh Indonesia. Hal ini ditinjau, dari banyaknya kemunculan kelompok-kelompok Bonek di berbagai daerah nusantara dan ditambah lagi gairah awayday yang rutin dilakukan oleh kelompok-kelompok Bonek yang memang lahir di Kota Pahlawan.

Kreatifitas. Dalam 3 tahun terakhir, jika membandingkan kreatfitas yang lahir dari kedua pihak suporter. Orang awam pun mampu menilai, Bonek saat ini telah mengalami transformasi luar biasa. Sedangkan suporter Arema, masih nyaman di zona keterbelakangan yang hanya mampu melontarkan psywar ala kampung dengan melakukan sweeping, hingga tak mampu membedakan antara suporter yang mereka anggap ‘rival’ dengan masyarakat umum yang kebetulan sedang menghabiskan waktu dan melepas penat di Malang.

Sehingga banyak kasus, yang justru menjadi korban kekerasan adalah salah sasaran.

Melihat, membaca, dan memahami uraian sederhana di atas. Sebenarnya menunjukkan bahwa Malang (Arema, red) biasa saja. Bahkan, nyaris tidak ada yang bisa dirivalkan.

Jadi, ketika Persebaya bertanding di Malang esok hari, adalah hal yang biasa saja, dan tidak ada yang perlu dirisaukan. Satu-satunya hal yang perlu kita awasi adalah, koneksi Iwan Budianto dalam sportifitas pertandingan esok hari.

Karena sejatinya di dunia sepakbola nasional, Arema bukanlah apa-apa. (AP)

Related posts

GN Fest 3, Mission Complete

Redaksi Green Nord

Ratu Tisha, Kamu Menggemaskan Deh

administrator

Pledoi Bonek

Redaksi Green Nord
error: Content is protected !!