Bonek Green Nord Persebaya

Friend Family Forever

SURABAYA-GN27.COM: “Dalam hidup, masalah datang dan pergi. Tidak ada persahabatan yang sempurna. Yang ada hanyalah, seberapa besar kita mempertahankannya.” Adalah secarik kalimat keyakinan yang menjadi

kekuatan awal berdirinya Green Nord 27 Tribune. Ya, sebuah persahabatan.

Keyakinan di antara para sahabat yang ingin mengubah stigma negatif dari Bonek. Keyakinan di antara para sahabat, yang ingin mendukung Persebaya selamanya. Keyakinan di antara para sahabat, akan tiba suatu masa kejayaan Persebaya.

Perusuh, dan kriminal, dua kata yang jamak melabeli nama Bonek dimanapun berada. Seolah telah menjadi sebuah kutukan, dan hanya Tuhan yang mampu menghapus image tersebut. Sebuah keresahan yang menjadi turning point bagi Green Nord 27 Tribune untuk melakukan sebuah gerakan yang mampu segala memori kelam. Dan melahirkan sebuah era baru bagi Bonek dalam eskalasi dinamika suporter sepakbola di tanah air.

Hingga tiba pada masa dualisme management. Tak hanya Persebaya yang terpecah secara tim, Bonek pun kala itu juga mengalami disintegrasi. Beruntung, Green Nord 27 Tribune menjadi salah satu kelompok kecil yang turut meyakini kebenaran sejarah akan tim kebanggannya.

Hingga terbentuklah sebuah gerakan bersama, untuk meluruskan sejarah klub di blantika sepakbola nusantara, dan mengembalikan hak-hak Persebaya yang akan
dimatikan sepihak oleh fedarsi. Dimana masa ini, lebih akrab ditelinga suporter dengan sebutan masa perjuangan.

Konsisten berada pada jalur perjuangan selama kurang lebih tujuh tahun, membuat embrio Green Nord 27 Tribune semakin membesar. Perihal tersebut dibenarkan oleh Anom, salah satu pendiri firm yang terdaftar di Green Nord
27 Tribune.

“Meski begitu, berbagai tekanan. Mulai dari skala cibiran, hingga tingkatan ancaman yang lebih ekstrim,” katanya.

Ia menuturkan, “Anggapan anak muda yang tidak tahu apa-apa tentang Bonek dan Persebaya, dan sok berani unjuk
kekuatan adalah narasi yang sering digaungkan untuk mendeligitimasi kami,” tuturnya.

Namun, lanjutnya, peritiwa itulah, yang justru membuat hubungan persahabatan seluruh penghuni tribun utara kian erat. Bahkan, merasa saling memiliki seperti saudara.

“Tentu, tak semudah itu menggugurkan keyakinan yang telah kami pegang. Sebagai pemuda yang mengandalkan kemampuan intelektual, kami membalas segala ragam cibiran dan ancaman itu melalui ragam kreatifitas yang kami
pertontonkan di atas tribun. Mulai dari koreo hingga chant, dimana kesemuanya adalah original karya yang kami ciptakan sendiri,” lanjutnya.

Ditambahkannya, salah satu kultur yang sengaja dikembangbiakan adalah bersama menanggung rasa sakit.

“Melatih kepekaan dan berempati sesama makhluk hidup, adalah sebuah manifestasi dari kemanusiaan.”

Hingga teranyar, official store merchendise. telah dilahirkan dan dikelola secara mandiri oleh seluruh penghuni Green Nord 27 Tribune.

“Tak hanya menguatkan ekspansi bisnis, disisi lain di dalam internal juga terdapat sebuah program yang bernama safari komunitas. dengan tujuan untuk saling memperkenalkan diri, sehingga tidak terjadi hirarki secara pergaulan
antara generasi penerus dan generasi lama. Selain itu, juga memperdalam misi dan visi dari Green Nord 27 Tribune,” tukasnya. (AP/DEN)

Related posts

Zero Accidents, Kampanye Cerdas Bonek Disasters Respons Team

Redaksi Green Nord

One Man, One Doll Untuk Kemanusiaan

operator website

Arema, Enaknya ‘Diapain’ ya? 

Redaksi Green Nord 2
error: Content is protected !!