Bonek Green Nord Persebaya

Persebaya Kritis: Tidak Dengan Hati Silahkan Pergi!

EDITORIAL

SURABAYA-GN27.COM: ‘Semakin tinggi pohon semakin kencang pula deraan hembusan angin’ sepertinya pepatah ini cocok untuk menggambarkan bagaimana kondisi Persebaya saat ini. Anjloknya performa Persebaya kali ini sangat mengherankan, kesebelasan yang ditopang dengan guyuran finansial sehat, loyalitas supporter tanpa batas, hingga kualitas top pemain skala timnas, serta pelatih berlisensi B UEFA, dan AFC Pro, tidak menjamin Bajul Ijo mampu keluar dari berbagi deraan.

Terkahir, setelah dibantai dalam laga away kontra Persib Bandung 4-1, disusul dengan kekalahan 1-0 berikutnya lawan Persela Lamongan di Stadion Surajaya, dalam lanjutan Liga 1 PSSI. Pertanyaan besar, sebenarnya apa yang sedang terjadi di dalam tubuh Persebaya tak hanya mencuat di kalangan para supporter, melainkan juga para legenda hidup, serta pengamat sepakbola nusantara.

Tim sarat prestasi, dikenal juga sebagai penghasil talenta timnas, dan koleksi puluhan trophy sejak berdirinya klub, seolah menjadi sebuah anugerah dan kutukan bagi Persebaya. Anugerah karena torehan tinta emas di masa lalu, Green Force menjadi salah satu jajaran tim terbaik tanah air, serta menjadi kutukan sekaligus, karena amburadulnya performa tim saat ini.

Evaluasi, warning, atau bahkan peringatan, adalah tiga statement yang selalu terlontar dari manajemen. Tuntutan rombak pemain dan tim pelatih, bahkan jajaran manajement pun sering disuarakan supporter. Pun, nyatanya masih belum membawa angin segar bagi perbaikan performa tim.

Lantas apa yang salah dengan Persebaya?

Secara klasemen, Persebaya Surabaya relatif aman karena masih bertengger diposisi sembilan. Memang, untuk menjadi juara membutuhkan sebuah proses, semua orang pasti tidak buta dengan proses. Namun, perlu menjadi catatan adalah menjadi juara-pun juga harus ditempuh dengan kemenangan. Bukan dengan segala cara, tetapi setidaknya terlihat effort ketika bertanding.

Dilansir dari Jawa Pos.com, mantan Pelatih Persebaya Freddy Muli mengungkapkan ini perkara mentalitas. “Para pemain harus percaya diri ketika bertanding, terlebih di kandang sendiri,” ungkapnya.

Senada, legenda hidup Persebaya Mustaqim juga mengatakan hal serupa. “Ketika bermain, terlebih di kandang bukan lagi berbicara menang atau kalah. Tapi menang dengan skor berapa,” tegas Mustaqim kepada Jawa Pos.com.

Tidak Dengan Hati Silahkan Pergi.

Berbeda dengan supporter lainya yang hanya mencintai tim nya sebatas 90 menit. Bonek, mencintai Persebaya secara lahir dan batin. Begitu besar cintanya, Bonek hingga tak mampu megutarakan kata-kata apa lagi untuk menggambarkan rasa sedih yang bercampur dengan kecewa namun terbungkus dengan cinta.

Hingga kalimat ‘Tidak Dengan Hati Silahkan Pergi’ adalah manivestasi terakhir bonek kepada Persebaya. Egaliterisme bonek ini, menunjukan hanya Persebaya-lah yang dicintai, tidak peduli siapapun pemainnya, siapapun pelatihnya, bahkan siapapun Presiden klubnya.

Artinya, proses intropeksi menjadi penting untuk saat ini. Termasuk Bonek sendiri. Menjadi supporter yang cerdas, dan tidak merugikan tim adalah menjadi salah satu pekerjaan rumah yang hingga saat ini masih dilakukan supporter secara konsisten.

Metamorfosis bonek, muaranya adalah demi Persebaya, hal yang seharusnya juga dipahami oleh pemain, pelatih, hingga manajemen, semua kerja keras tujuannya adalah demi mengembalikan kejayaan Persabaya Surabaya.

Kabar duka yang datang silih berganti dari gugurnya para supporter ketika memberikan dukungan, memang menjadi luka bagi semua pecinta Persebaya. Sehingga, saat ini yang harus dilakukan bagi yang hidup dan menghidupkan kesebelasan ini adalah meneruskan cita-cita bersama, yakni menjadikan Persebaya Surabaya juara sejati.

Related posts

Harmonisasi Green Nord 27 Tribune

Redaksi Green Nord

Era Baru Itu Bernama Green Nord 27 Tribune

Redaksi Green Nord

Suka Duka BONEK BONITA, Di Tengah Carut Marut Jadwal Yang Tidak Konsisten

Redaksi Green Nord 2
error: Content is protected !!