Bonek Green Nord Persebaya

Mess Karanggayam, Marwah Persebaya dan Bonek

Surabaya, GN27.com – Berbicara Persebaya bukan hanya tentang sepak bola, namun terdapat sebuah sejarah panjang dari Soerabaiasche Indische Voetbal Bond (SIVB), hingga berganti menjadi Persebaya. Dalam perjalanannya, Green Force pernah terlibat kasus sepakbola gajah ditahun 1988. Catatan kelam tersebut, tentu masih membekas dalam ingatan Bonek, kala itu Persebaya harus mempermalukan dirinya sendiri untuk mengalah 12-0 dari tim Persipura. 

Tak berhenti sampai disitu, pada tahun 2010 giliran Persebaya yang dijegal oleh PSSI. Federasi saat itu, memutuskan Persebaya harus memainkan laga ulang melawan Persik Kediri di Stadion Gelora Jakabaring Palembang, yang akhirnya memaksa Persebaya tergradasi dari kompetisi Indonesia Super League (ISL). Peristiwa ini menjadi awal buntut dualisme yang terjadi di kubu Manajemen Persebaya.

Kini, permasalahan baru muncul. Adalah kasus Mess Karanggayam yang bersengketa dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Tidak ada yang tau persis kapan bangunan tersebut didirkan, beberapa warga sekitar Mess Karanggayam mengatakan bahwa sekitar periode 1950-an bangunan tersebut sudah berdiri. 

Permasalahan ini berawal dari dikabulkannya sertifikat hak pakai oleh Badan Pertanahan Negara (BPN) Kota Surabaya atas tanah Mess Karanggayam kepada Pemkot tahun 1995. Puncaknya, tepat pada tgl 15/5/2019 Mess Karanggayam dikosongkan oleh pihak Kejaksaan Negeri dengan landasan pengamanan aset Pemkot Surabaya sesuai PP No 24/2014 dan Permendagri No 19/2016.

Merasa terdzolimi dan disingkirkan, pihak Manajemen Persebaya menempuh jalur hukum dengan melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri. Sidang pertama dilakukan pada tanggal 17 Desember 2019, dan memutuskan bahwa yang berhak atas tanah tersebut adalah pihak Persebaya, dan PT. Persebaya Indonesia memiliki prioritas permohonan unjtuk mengelola Mess Karanggayam sebagaimana mestinya. 

Fakta tersebut mempertegas materi sertifikat hak pakai nomo 5 Gelora Tambaksari seluas 49.400 Meter yang tertulis atas nama Pemkot Surabaya terbitan BPN pada tahun 1995 tidak sah dan tidak mempunyai kekuataan hukum. 

Tidak puas dengan hasil itu, pihak pemkot mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Surabaya. Alhasil tanggal 16 November 2020 banding tersebut juga di tolak, tentu hal ini menguatkan keputusan Pengadilan Negeri Surabaya yang memenangkan pihak PT. Persebaya Indonesia.

Mess Karanggayam bukan hanya sebuah bentuk bangunan dan sekadar lapangan sepakbola, tapi lebih dari itu, ia menjadi saksi bisu sejarah prestasi Persebaya. Lapangan Mess Karanggayam juga turut andil dalam menciptakan bibit pemain unggulan sekaliber sepak bola nasional. Nama-nama seperti Bejo Sugiantoro, hingga Adam Maulana adalah hasil pengembangan dan pengelolaan klub internal Persebaya.

Jika ditelaah kembali, menjadi aneh ketika disatu sisi dinyatakan bahwa Persebaya memilik hak prioritas dalam mengelola Mess Karanggayam sebagaimana mestinya. Tapi disisi lain, pihak Pemkot juga secara gamblang menunjukan sertifikat hak pakai yang dikeluarkan oleh BPN sejak tahun 1995. Hal ini jelas menjadi catatan dan evaluasi buruk terkait kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang terlibat dalam pengelolaan aset pemerintah kota. 

Jika Persebaya telah mendapatkan hak hibah, dan mendapatkan hak prioritas dalam pengelolaan, menjadi hal yang lucu setelah 25 tahun kemudian pemkot meminta untuk pengosongan lahan. Walaupun pada akhirnya Persebaya sendiri juga tidak pernah menempati  serta menggunakan gedung tersebut lagi sejak 2017, dan lebih memilih tinggal di apartemen serta melaksanakan latihan di Lapangan Polda Jatim.

Berbagai macam konflik, sengketa, dan kasus Persebaya, mau tidak mau menyeret Bonek dalam pusaran arus kepentingan. Sebagai suporter, Bonek tidak mengenal kata lelah mendukung Persebaya. Namun, Bonek juga tidak akan melibatkan diri dalam spektrum kepentingan politik praktis.  

Kita semua bersepakat, bahwa permasalahan Persebaya terkait administrasi, legal standing, dan kepemilikan sudah semestinya diselesaikan di meja hijau. Tak sekadar terkaan dan menjadikan konstelasi politik praktis dan kepentingan lain. Karena pada dasarnya Bonek dan Persebaya satu, bukan hanya untuk melanggengkan kepentingan golongan maupun kelompok yang sedang berkonflik yang melibatkan Persebaya dan Bonek.

Dan perlu digaris bawahi “Persebaya dan Bonek bukan pelacur politik!”

Pemkot seharusnya bisa ‘legowo’ untuk memberikan keleluasaan pihak Persebaya agar dapat menggunakan haknya terkait pemanfaatan Mess Karanggayam sebagaimana fungsinya. Meskipun disisi lain, masih terbuka peluang besar bagi pemkot untuk melanjutan gugatan di tingkat kasasi hingga mendapat putusan hukum tetap. 

Jika memang nantinya putusan hukum berpihak pada kemenangan gugatan PT. Persebaya Indonesia pada tingkat kasasi. Sebagai suporter, Bonek mempunyai tanggungjawab moral untuk melakukan controling system terhadap manajemen terkait bagaimana sistem pengelolaan, pemanfaatan, hingga pemberdayagunaan fasilitas olahraga publik.  

Mengenai pengelolaan Mess Karanggayam, perlu diperhatikan beberapa aspek, yakni infrastuktur, fasilitas, dan juga terkait perawatan atau daily maintenance. Untuk infrastuktur misalanya, revitalisasi tribun, penambahan pagar pembatas antar tribun penonton dan lapangan, lampu stadion untuk menggelar latihan atau pertandingan pada malam hari, papan skor standar, hingga ruang ganti pemain, bench pemain, sampai dengan adanya fitness center

Dalam hal fasilitas, yakni area parkir yang memadahi. Selain itu perlu dibuat akses bagi suporter agar tidak terjadi penumpukan pada satu titik. Mulai dari pintu masuk suporter dari luar menuju kearah tribun. Kemudian diperlukan adanya area penjual makanan dan minuman di sekitar tribun. Sedangkan untuk fasilitas di dalam gedung, perlu dibuat ruang press conference untuk kawan-kawan media, tempat ibadah, serta toilet umum. Penonton dan suporter yang datang tidak hanya mendukung saja, namum juga bisa mengunjungi museum Persebaya yang terletak didalam Wisma Persebaya.

Sementara itu, perawatan terhadap berbagai sarana infrastuktur maupun fasilitas yang ada juga harus dilakukan secara berkala dan intens. Seperti perawatan lapangan, kebersihan tribun, toilet, dan lain sebagiannya.

Nantinya, Mess Karanggayam dan Lapangan Persebaya tidak hanya dipergunakan untuk menggelar latihan saja, namun bisa digunakan sebagai wadah pembinaan pemain usia muda melalui berbagai kompetisi. Ketika tidak ada kompetisi ataupun latihan, sewajarnya bagi warga Surabaya untuk bisa mempergunakan Lapangan Persebaya sebagai sarana olahraga masyarakat. Seperti halnya kegiatan chant class yang dilakukan oleh suporter. (adn/dan/pon)

*diolah dari berbagai sumber

Related posts

Hasil pertemuan Bonek dan PSHT

Redaksi Green Nord

#bonekumentary. Satu Bonek Untuk Semua

operator website

Satukan Tekad, Fokus Dukung Persebaya

Green Nord